Selamat Tinggal

“Aku ingin melihat dunia dari matamu”

Misalnya saja, kenapa lampu-lampu kota di bawah bukit terlihat begitu cantik? Mengapa pasir salju yang terangkai di antara rumput-rumput liar yang kecokelatan bersinar seperti kristal tapi lembut ketika disentuh? Mengapa, salju yang menarikan musik angin yang semilir terlihat seperti sihir yang menakjubkan di matamu?

Desember 2010,

kalau kukatakan aku telah bertemu seseorang yang membuatku ingin melihat dunia dari matanya, maukah kau percaya?

“Tidak”, langkah kami serempak di antara lalu lalang orang-orang di bawah terowongan yang menuju ke universitas kami. Suara kereta melalui rel di atas terowongan menggema di lorong temaram itu. Sore, salju telah berhenti turun. Pertigaan besar di depan pintu gerbang sekolah kami dipenuhi mobil-mobil yang bergerak perlahan di tengah jalan yang licin karena salju yang mencair. Kami berdua berlari menyeberangi jalan besar itu begitu lampu tanda penyeberangan berubah hijau.

“… pertama, tidak ada orang gila yang mau bertukar tempat dengan orang lain. Apalagi orang aneh sepertimu..”,

kami masih berlari,

“… dua, kenapa pula kamu ingin bertukar tempat dengan orang itu? Life’s that bad?”

Life’s good“,

Are you sick?

Nah“.

kami berdua berhenti berlari begitu kami menginjak trotoar.

“Jadi, orang itu istimewa?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Hanya saja, aku ingin ia melihat dunia yang kulihat. Bertukar tempat sebentar saja.

Biarkan aku, melihat dunia dari matamu.

Karena aku tak bisa mengatakan itu, aku membiarkanmu pergi, ya.

Tapi biarpun aku mengatakan itu, seperti yang temanku bilang, kau akan berpikir aku tidak waras. Karena kamu selalu berpikir sederhana. Tanpa beban dan tak pernah menggurui. Mudah ditebak dan konformis.

Tapi kamu melihat dunia yang berbeda. Berbeda dari mereka semua, dan aku.

“Di mana orang itu sekarang?” Aku bersama temanku berjalan menyusuri jalan utama universitas yang penuh orang-orang dengan buku di dekapannya atau tas ransel di pundaknya, atau high heels dan parfum, atau make up dan fashion show. Di kanan kiri trotoar jalan utama itu, pohon-pohon ceri yang berbunga sakura di kala musim semi berdiri sendu diterpa angin musim dingin.

Aku tidak tahu. Lima tahun kurasa, aku tak pernah lagi bertemu dia. Ia selalu ada di situ sebelum itu. Di tempat-tempat di mana aku berada. Lantas menghilang. Seperti daun yang gugur dan pergi bersama angin yang tak tahu kapan kisahnya akan berakhir.

Tapi baru beberapa hari yang lalu aku melepaskannya.

“Rasa sukakah?” kami berdua tetap melangkah menyusuri jalan utama itu menuju gedung kuliah kami yang terletak di kaki bukit. Aku menggeleng.

“Hanya seorang teman yang kutemui dalam satu masa hidupku…” aku tersenyum pada wajah familiar yang ada di sampingku itu,

“Mungkin aku tak akan pernah bertemu dia lagi”, lanjutku.

seperti aku yang mungkin tak akan pernah bertemu kau lagi.

I see“,

New Millenium Hall berdiri kaku di ujung jalan yang terbelah pertigaan itu. Gedung tempat kuliahku pukul 3 sore ini. Kami berdua berlari kecil menuju pintu belakang gedung berbentuk tumpukan persegi itu, melewati pohon magnolia yang gundul, dan jalan yang licin.

Salju turun kembali.

 

Advertisements