Semoga Perang Berakhir

Aku di kelas waktu itu.

mendengarkan presentasi seorang teman sekelas, atau kuliah Profesor-ku.

Aku tidak ingat.

Seorang teman sekelas yang tahun ini tengah wajib militer tergesa-gesa meninggalkan kelas. Beberapa saat kemudian Professor masuk kembali ke ruang kelas dan bertanya,”

“Benarkan Korea Utara menembaki kawasan Korea Selatan?”

Mark, seorang teman sekelas yang lain, menjawab dari ujung belakang ruangan.

“Ya”.

23 November 2010. Sore hari waktu Korea, sekitar pukul 4.

mereka bilang penembakan masih berlangsung.

Tak ada yang terjadi di sekitarku. semuanya terlihat normal. Tak terjadi apa-apa.

BBC, CNN, dan semua media global memberitakan penembakan Korea Utara ke pulau Yongpyeong-do, daerah Korea Selatan.

Dan seluruh dunia panik.

di saat Seoul tenang di permukaan. Di dalam, adalah hal yang berbeda.

24 November 2010,

Kelas yang berbeda.

kami membicarakan Perang Dingin, bagaimana dan mengapa perang itu berakhir.

Ketika bahasan menyentuh peruntuhan Tembok Berlin tahun 1989, Professorku, seorang German, tiba-tiba mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti seonggok batu dari tas kotak hitam yang selalu beliau bawa.

“Ini bagian dari Tembok Berlin”, ucapnya, lalu menyerahkan benda itu ke salah seorang mahasiswa agar kami semua bisa melihatnya.

Yes, I was holding a piece of Berlin Wall. The real thing.

Symbol of peace, reunification.

Romantic.

However, it was just a piece of construction cement for me. No significant meaning.

Karena aku tidak tahu.

aku tidak tahu apa-apa tentang Berlin Wall. Tentang bagaimana rasanya hidup di satu negara yang dipisahkan dengan paksa. Yang untuk menyebrang ke sisi yang satunya lagi saja, mereka harus menerobos perbatasan tiga negara. Aku yang tak tahu apa-apa.

Korea Utara dan Korea Selatan.

Aku benar-benar berharap perang besar tidak akan pernah terjadi lagi di antara keduanya.

Perdebatan dan diskusi di antara teman-teman sekolahku terus berlanjut. Kenapa Korut melakukan itu? Apa yang harus dilakukan Korsel? Diam? Tidak mungkin. Membalas? Sejauh mana? Seburuk apa balasannya? Perang total? Sampai kapanpun diskusi tidak akan pernah selesai.
Ada saja orang-orang yang dengan sangat bersemangat dan bergairah mengatakan,

“Let’s just go to war!”

seolah perang adalah permainan.

seolah lebih dari 4.000.000 korban meninggal saat Perang Dunia II tidak cukup memberikan pelajaran. Lebih dari empat juta. Perang Dunia I, diawali Jerman yang menyangka perang akan berakhir dalam beberapa minggu atau bulan. Perang berlanjut hingga bertahun-tahun yang melelahkan. Di Perang Dunia II, Jepang menyerang Pearl Harbor dan berpikir bahwa dengan begini, mereka bisa menandingi dan menggantikan sang adidaya Amerika. Amerika menjatuhkan dua bom atom pertama dan terakhir dalam peradaban manusia yang pernah dijatuhkan di tempat berpenduduk, berharap perang akan segera berakhir dan kemenangan bisa dicapai. 300.000 orang meninggal seketika di Hiroshima saat itu. Ketika bom itu dijatuhkan, karena cahaya/radiasi dihantarkan udara lebih cepat daripada suara, orang-orang itu bahkan telah ambruk sebelum mereka mendengar dentuman benda yang melukai mereka.

Tidak ada kemenangan.

Siapa yang akan menyebut kejadian memalukan dalam sejarah kemanusiaan ini, kemenangan?

Aku tidak suka keadaan itu.

sangat tidak suka.

sedikit takut jika tiba-tiba perang benar-benar meletus.

takut, bahwa aku tidak sempat bertemu Ayah dan Mama sekali lagi.

Menakjubkan bagaimana penembakan bom selama beberapa jam bisa menciptakan dan menyebarkan rasa takut.

Menakutkan bagaimana pertikaian sehari  meyebarkan teror dan kegalauan.

Allah, semoga perang tidak memburuk.

semoga perang berakhir.

Advertisements

Among my Summer Works

My employer for this summer internship is a huge commercial bank.

Job desk week 1: translation.

Type: Nine to five, yes.

Sounds boring? Not really.

Today was my first day of internship this summer. I felt soooo not excited, at all!! Realizing that I work for a corporation. A bank. Even as an intern.

But it was an unexpectedly interesting, actually. I enjoyed the work so far. I did not get distracted. In fact I nailed it. Nine to five, working in front of computer translating banking terminologies. It was interesting. Why? I have no idea. But perhaps because it was like a game, the translating process. It stimulates every neuron of memories of words, terminologies, and it trains me to learn new words and terminology. So I love translating job.

The other interesting part happened yesterday, my orientation day.

After signing the contract and did my things with other interns, the bank crew took us to this Japanese-Korean restaurant. Nothing interesting happened except that the food was good (that’s the most important thing, anyway, right?!!!) Until. Until a young part-timer accidentally spilled soy sauce to one of the crews. The boy perhaps thought it was not a big deal at all so he did not even apologize. His fault I know. But then this man (the crew) was very upset so the boy mumbled ‘sorry, sorry’ for soo many times. The crew did not care. He demanded the boy to call the aunt, the owner of the restaurant. The aunt solved the problem by giving the guy laundry fee. Oh well.

When I saw the boy’s face when he mumbled the ‘sorry’ word for a dozen times, I felt like, i wanted to protect him with my life. Hahaha. Poor him.

But seriously,

even if it was a soy sauce, I really thought that the guy was just messing it up. I mean, what’s the big deal about it anyway?! The boy might be scolded later, or perhaps, fired. What’s so great about demanding a 20 thousand won and pay it with the boys job at stake. Whatever!!!!

One thing I got from the incident. I’m not going to take that small mean thing from Korean society if what he showed was what it is. Gosh! What’s the big deal about having somebody accidentally spilled soy sauce soup on your clothes?

Sheesh!

Anyway, today went amazing! Because of one thing, I could pray in the office, and the bathroom is clean and clean water provided. Hmm^^

Lost in the Spring

I never like spring.

It’s just  a season when flowers bloom and the world looks so pretty.

like an ecstasy, so fake and short, covering all the wounds and scars under. So people will not focus anymore to their feelings. Stop being honest and so much detached from reality. Their own feelings. Because the petals are so illusionist, like a layer bringing people to hallucinate. Free from reality. Lies on their eyes, and they don’t even understand how fool they are.

Spring is never my favorite.

for me it’s too artificial and too short,  like a pretty girl that left me no impression. For envious reason, haha. Like a pretty boy that’s bitter. Bitter and mischievous.

But I’d like to enjoy being mischief once in a while. Blur in the soft  layers of pinkiesh cherry blossom. Just to thank what I have today.

But if,

if I lost spring this year,

I couldn’t.

I couldn’t see my self loosing spring.

Even if I’m alone this year.

I think about someone I want to be with this spring.

And see how spring is so much mischievous. I no longer think of that someone.

It was just spring and me.

even if it’s natural artificial, I want to be this year,

lost in the spring.

Back to Itaewon

Here it is one of a must visit places when I’m in Korea, and perhaps for all the Muslims visiting Seoul since this is where the biggest Mousque in Korea located. I couldn’t pray that time, but still I wanted to visit it once more. Just to be there, feel the atmosphere of a home, serenity, and international environment. And, of course, to eat halal food, hehehe (I’ve been enduring not eating meet since my first day coming to Korea this year, long time ago,…. five days ago, hahaha).

It has not change. Itaewon mosque.

still serene,

And I just read that the Malaysian government actually sponsored a larger portion for the building of this mosque, together with other Muslim countries. Moreover you can read facts about this Mosque and overall Islam in Korea here

http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_in_Korea

despite the fact that the mosque location is near to streets full with night clubs and pubs.

There was a Foreign Restaurant, a halal Indian restaurant. After,  I decided to go there. And eat.

Yonsei University, A New Contract of Academic Nobility

Alhamdulillah,

I am officially a part of academic community of Yonsei University this Spring 2010 semester. I guess I always feel this kind of ‘connection’ with Yonsei University. It is an honor. To be a part of an honorable, idealistic, noble academic community has always been a great honor for me.

Honorable, for searching relentlessly for answers where all are in a never-ending learning and teaching journey, to prudential

Idealistic, for honestly saying truth from lies, believing whole-heartedly and act based on it

Noble, for purposing the long efforts to and end of human prosperity spiritually, mentally, physically.

as for me, of course, so.

That’s why I love school. Despite all the lies and betrayals by parts of the so called academic communities, in most aspects,

all aspects, perhaps.

So I’m telling you which one I want to be part of.

So a new school begins.

Incheon International Airport: The World of A Transitory

IMG_0268

The world of a transitory. Begitu aku akan mendefinisikan Incheon International Airport, Korea. Pagi hari, aku tidak ingat pukul berapa, pesawat Thai Airways yang kutumpangi bersama teman-teman baruku dari seluruh Asia Tenggara, mendarat dengan selamat di bandara yang terselimuti kabut tebal dan udara super dingin itu, 15 Maret 2007. Suasana ‘Korea’ sudah terlihat dari patung-patung pria berjanggut panjang dan lebat berpakaian tradisional Korea yang tegak berdiri di sepanjang koridor menuju deretan meja-meja pemeriksaan dokumen kedatangan.

Deretan panjang antrian terlihat di meja-meja itu. Segera, aku dan teman-teman turut mengantri di depan meja-meja yang di atasnya tergantung tulisan ‘Non-Korean Citizen’ setelah mengisi Kartu Kedatangan. Namun ketika aku telah sampai di meja pemeriksaan passport dan dokumen lain, petugas bandara itu mengatakan sesuatu dalam bahasa Koreayang jelas gue ngga ngertilalu menunjuk ke arah sebuah ruangan. Rupanya, bukan hanya aku yang harus melakukan itu, Icha, temanku dari Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kami segera menuju sebuah kantor, yang terlihat seperti kantor administrasi atau pemeriksaan dokumen atau apalah itu. Seorang bapak, tanpa berkata apa-apa mengulurkan tangan seperti meminta sesuatu (What the… what what, what do you want?). Menebak, aku memberikan passport-ku. Ternyata benar dia meminta dokumen itu. Lalu ia terlihat sibuk mengetik dan memeriksa sesuatu di sebuah komputer, sekitar 30 menit, dan kemudian memberikan passport itu kembali pada kami. Rupanya mereka mengecek passport-ku, ah tidak, warga negara Indonesia, dua kali. Aku tidak pernah tahu alasannya, tapi kurasa demi security, yeah right!

Incheon memiliki sebuah ruang baggage claim yang luar biasa besar. Untungnya ada papan penunjuk yang menunjukkan nomor penerbangan dan nomor blok baggage claim-nya (coba kalo ngga, bisa gempor nyari-nyari baggage di ruangan yang segede stadion itu). Setelah menunjukkan kartu baggage claim pada petugas, kami bebas berlalu menuju pintu keluar terdekat, di mana Eunjin Onni (the one who incharge for me and other ASEAN students for this spring and fall semester in Daejeon University, 2007) dan beberapa orang buddy (mahasiswa Daejeon Univ. yang bertugas nemenin kita ke mana-mana selama satu semester) sudah menunggu, dengan wajah tegang, cemas, tapi tetap hangat. Dan aku bertemu dengan seseorang itu, untuk pertama kalinya (which is very usual, i almost din notice him).

IMG_2930

Aku menginjakkan kaki di Incheon International Airport untuk ketiga kalinya pada 27 Desember 2007, saat ketika aku harus meninggalkan Korea. Saat inilah aku punya kesempatan lebih banyak untuk benar-benar menikmati suasana bandara itu. Bandara Internasional Incheon adalah bandara internasional terbaik di Asia. Jika kita masuk ke sana, kita tidak akan lagi merasa seperti di Korea. Kita akan merasa seperti di sebuah kawasan bebas teritori yang terjaga selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Arsitekturnya memungkinkan cahaya matahari mampu masuk ke hampir seluruh bagian ruangan. Begitu banyak kios dari toko buku, toko kerajinan tangan, restoran, toko CD dan kosmetik, convinient store, wireless WIFI, bahkan Korean Art & Traditional Culture Exhibition Hall ada di sana. Nursing room, pusat perbelanjaan, mall, cafe, hingga bioskop, bahkan subway di kawasan bawah tanahnya, membuat Incheon lebih seperti pusat perbelanjaan daripada bandara. Aku suka Incheon sebagai tempat menunggu pesawat, tapi tidak dalam hal kemampuan para petugasnya berbahasa Inggris.

Di lantai satu bandara itu, ada sebuah Indoor Square Park. Sebuah taman buatan dalam ruangan. Taman itu berubah menjadi putih cemerlang saat natal tiba. Mereka membangun rumah-rumahan, pohon natal, membuat patung kelinci bahkan rusa dari ranting-ranting pohon di sana. Lalu menghiasnya dengan lampu-lampu. Ada kolam berbentuk persegi yang cukup besar di tengah taman artifisial itu. Dengan air terjun kecil dan lampu-lampu di dasarnya, kolam itu berpijar. Di dasar kolam yang dilapisi porselen hitam berkilau, bartaburan ratusan, mungkin ribuan uang logam perak dan kuningan. Rupanya orang-orang menjadikan kolam itu sebagai wishing spot. Mereka akan menggenggam uang logam, membelakangi kolam itu, berdoa, dan melemparkan uang itu ke kolam tanpa berbalik. Berharap permintaannya akan terkabul. Aku ingat teman-temanku pernah melakukan itu saat aku mengantarkan mereka ke bandara ini beberapa bulan lalu. Aku tidak pernah percaya tahyul itu.

IMG_1897

“… I feel like I’m not in Korea anymore. Like, now, we’re all sitting here, it’s like that we’re in international area, not in Korea anymore”, ia bicara dengan senyum, tapi suaranya seperti tercekat. Horeb, seorang teman baik dari Filipina, duduk di bangku yang sama denganku hari itu. Aku tersenyum tipis mendengar kata-katanya. Kawasan internasional. Perlintasan antara orang-orang yang datang dan pergi dalam hitungan detik. Maaf. Aku tak sepenuhnya mengerti, Horeb. Sebelum satu persatu teman-temanku berlalu di pintu keberangkatan. Tangisan pecah tiap seseorang dari kami akan terbang. Aku ingat. Aku juga menangis sangat keras ketika hendak meninggalkan ruang tunggu itu. Memeluk seorang teman dekat, Zaza, erat dan menangis dengan sangat baik. Karena aku akan melepaskan semua hal buruk dan semua hal baik yang kutemui di negara itu. Kini aku mengerti Horeb.

International area.

Like…

A transitory. Tempat di mana aku bertemu dengan banyak individu untuk pertama kali. Dan tempat aku berpisah dan tidak pernah tahu kapan akan bertemu dengan mereka lagi. Semuanya perlintasan. Semuanya seperti transitori. Mampir sebentar lalu pergi.

IMG_1899