Father Project: A Living History

It was 1967, when the Cuban Missile Crisis occured.

Di periode Perang Dingin, Amerika Serikat (AS) dan Soviet Union (SU) ada di tengah ancaman perang nuklir. Kedua negara superpower itu sama-sama punya jumlah nuclear warheads yang terus meningkat, keduanya sudah memiliki Intercontinental Ballistic Missile (IBM)-misil yang bisa diluncurkan melintasi benua ke kawasan musuh dari kawasan domestik,  saat itu. Ketegangan memuncak ketika pada Oktober 1967 AS mengetahui bahwa SU mengirim misil-misil nuklir ke Cuba, negara yang terletak dekat dengan AS (the so called ‘The Western Hemisphere”), dan kalau misil diluncurkan, dalam waktu lima menit, satu misil bisa meledakkan satu kota.

It was 1967.

It was when he was 26. The time when he has not even met his first love.

When Europe was in the immense threat because Nazi Germany was expansionist and very aggressive in 1940, he was born. It was the same day Germany invaded Denmark. And who cares about Germany invaded Denmark, really?

The child was born in a Holland colony in the East Indies, now Indonesia. I couldn’t imagine what the room looked like, what the expression of people in the room looked like when they met him for the first time (very very very lucky people), if the sun was high, or set. If it was raining or sunny. If ever the leaves were singing, or the birds were dancing, or the universe was standing still. Because he was born.  The most important person in my life.

How did God make this beautiful connection between me and this person?

And I keep wondering, beautiful wonder, really, why only for 23 years of his now 70-years-life that I’ve known him? Why not before? What kind of life he was facing before he had me? What kind of decisions he made before the day I was born? What made him have the courage to live life before the day I saw the sun for the first time? Spaces he was at, memories he had… I wish I could knew. I wish I could see what he sees, feel how he feels things.

This connection, I think, that made me worry my whole childhood life that I would lose him; why I got sick when he left home for only a little bit long time for business trips; and wondering now why did I turn into such a bad child arguing with him, making him sad in times.

He was there when the Cold War on set. He was still there when it’s over.

The fact that he is still here for more histories to come brings me to my happiest feeling.

He may not know me for the first 47 years of his life. But I can’t thank God more for making me knowing him since the day I was born.

Advertisements

Father Project 2: Ibu yang Selalu Ia Rindukan

Ayah anak ini meninggal. Sejak usianya lima tahun.

Sebelum sang Ayah menghadap Tuhan, keluarga anak itu hidup berkecukupan. Akan ada saja orang-orang kampung yang datang dan memberi gula, beras, singkong, dan bahan-bahan makanan lain karena sang Ayah adalah sekeretaris desa. Ia dan kelima saudaranya bersama sang Ibu hidup cukup dan bahagia. Adik perempuan anak itu meninggal karena sakit suatu ketika, menyisakan ia sebagai anak bungsu keluarganya. Sang Ayah punya dua istri, ibu anak itu, dan bibi yang satunya. Keduanya tinggal di rumah yang berbeda.

Anak ini tinggal bersama sang ibu dan keempat saudaranya di rumah dekat sungai kecil yang bermuara ke lautan tak jauh dari kampung itu. Sungai yang dialiri jernihnya air di antara batu-batu sungai hitam yang mengkilap. Aku hanya bisa membayangkan karena sungai jernih yang selalu kudengar di masa lalu telah berganti menjadi sungai yang dipenuhi sampah dan kotoran saat ini. Aku membayangkan, betapa indah jika saja anak itu bisa membawaku ke sungai jernih itu, bermain dan menghabiskan waktu bersama di sana. Aku ingin berlari ke sana, bertemu dengan Ayah yang berusia lima tahun. Aku mungkin hanya akan duduk di situ, mendengarnya bicara, berceloteh tentang hal-hal kecil, bersyukur pada Tuhan karena membawanya ke dunia. Karena mempertemukanku dengannya.

Anak itu masih ingat hari pertamanya di sekolah dasar ketika sang Ibu menitipkannya pada seorang guru teman baik sang Ayah. Hal yang paling diingatnya di sekolah dasar bukanlah kenangannya bersama teman-temannya, atau guru-gurunya, tapi tentang ia dan Ibunya. Setiap hari, sang Ibu akan datang menjemputnya di sekolah saat siang tiba. Membawa sebungkus nasi yang didapatnya sebagai upah mencanting batik dekat gereja di pinggir sungai. Anak itu akan makan berdua dengan sang Ibu. Ia masih ingat dan selalu terharu mengingat itu. Aku selalu terharu, tak peduli berapa kalipun aku mendengarnya. Saudara-saudaranya yang lain akan berkeliling kampung menjajakan singkong atau kue-kue dan makanan kecil yang dibuat sang Ibu. Di rumah, sang Ibu akan berjualan pula.

Sore hari, anak itu akan pergi ke langgar dan belajar mengaji. Ia menjadi murid kesayangan sang guru mengaji. Ia melesat lebih daripada kakak-kakaknya dalam hal membaca Al-Qur’an. Dan ia tumbuh menjadi orang yang paling kuhormati dan kukasihi.

Anak itu masih punya foto sang Ibu hingga kini. Aku berkesempatan melihat foto yang terpajang di ruang keluarga rumah kami. Ia cantik dan di wajahnya tergores raut-raut kesabaran yang sangat jarang kulihat. Jadi inikah wajah sang Ibu legendaris yang selalu diceritakan Ayah dan kakakku? Sebagai anak bungsu, aku tak pernah bertemu dengan beliau. Jika beliau bertemu aku, akankah beliau menyukaiku? Bisakah aku membuat beliau bangga? Siapakah yang akan lebih beliau sukai? Kakakku atau aku? Beruntungnya kakakku, yang punya kesempatan bertemu dengan beliau. Nenek yang seringkali kudengar cerita  tentangnya, yang tidak bernah kutemui.

Bahkan menulis tentang anak itu dan sang Ibu, membuat air mataku tak berhenti mengalir. Sheesh!!

Father Project 1: Penyuka Soekarno

Ketika berdiskusi tentang presiden Indonesia, dia akan jadi orang paling antusias membicarakan Soekarno. Siapa yang tak tahu Soekarno, one of the founding fathers of the Republic, the first president. Mungkin karena ingatannya tentang sang presiden begitu jelas. Memori yang tak pernah ia lupakan.

Sore hari, di tengah kota kecil Bangkalan, satu dari empat kota di pulau kecil, Madura, ia ingat, bersama sang kakak laki-laki,  ia bercerita, ia menyaksikan sang Presiden berpidato. Ia tak jauh dari Soekarno yang tengah menyampaikan pidato paling meyakinkan yang pernah ia saksikan saat itu. Sang presiden terkenal sebagai orator ulung memang. And the little boy was enchanted.

Anak kecil penyuka Soekarno ini berusia lima tahun saat itu. Ia lahir pada April 1940 (aku tak menyebutkan tanggal, for security reason). Artinya, saat sang orator berorasi, itu sekitar tahun 1945. Yang aku tidak tahu, entah orasi itu disampaikan sebelum atau sesudah deklarasi kemerdekaan Indonesia.

Sang bocah ingat pula masa-masa ketika Belanda dan Jepang masih mengkolonisasi Indonesia (keduanya melakukannya demi tujuan yang berbeda. Yang satu demi kepentingan agama, uang, dan kekuasaan. Yang kedua lebih pada ingin menaklukkan dunia. Tapi apa bedanya, toh keduanya melakukan cara-cara kotor demi meraih semua itu). Ia masih tinggal di rumah di perkampungan dekat sungai Bandaran yang bermuara ke lautan. Rumah semua orang, ia akan bilang. Kadang-kadang sehabis pulang sekolah ia melihat tentara-tentara Belanda bergerombol, merokok candu. Menunjukkan padanya dan teman-temannya bagaimana cara menghisap candu.

Ketika Perang Pasifik meletus, sang bocah ingat benar ketika ia dan keluarganya harus berlari mengungsi ke rumah salah satu saudara di Keranan, daerah yang tak begitu jauh dari rumah sungainya, demi menghidari tentara Jepang. Ketika tentara-tentara Jepang datang, ia, digendong punggung oleh kakak laki-lakinya, menyaksikan tentara-tentara itu berparade di alun-alun kota. Memperkenalkan diri mereka, sebagai penguasa yang baru (bagi mereka). Sebagai teror dan ketakutan bagi orang-orang yang menyaksikan. Kalimat terakhir itu adalah pendapatku sendiri.

Sang bocah tak terlalu mengerti apa arti semua itu.

Ia cuma seorang anak berusia lima tahun.

Oh ya, belumkah aku bercerita, kalau sang bocah adalah anak yatim sejak usianya lima tahun?

Father Project: Declaration of Love

Aku punya rencana gila. It just popped up in my mind like a blast.

I had a plan, this little plan that someday I will make my father’s biography. He is such an amazing person and it will be nice to write what I see in him.

Ingatanku tentang beliau mungkin adalah bagian dari hal-hal terindah yang pernah kuingat.

Jadi sebelum aku melupakan semuanya.

Sekarang, kuputuskan untuk menuliskannya di sini saja. Online. Tak terikat waktu, tempat, medium. Dan yang paling penting, no commercialization. Then perhaps Walter Benjamin would be willing to call it ‘high culture’. Haha, tapi siapa yang peduli. Ya, jadi idenya hampir sama seperti film Julie & Julia di mana sang pemeran utama membuat proyek blog-posting tentang masakan dan menetapkan deadline untuk itu. Aku akan melakukan hal yang sama. Membuat seratus,… hmm tunggu, terlalu banyak, 51 postings tentang kisah hidup Ayahku (berdasarkan yang ia dan sumber lain yang dapat dipercaya ceritakan padaku), dalam waktu, hmm, 3 bulan. Jadi terhitung sejak hari ini, 4 Juli 2010 hingga 4 September 2010.

Here we go!