Kembali ke Dulu (7)

Aku merasa terbuai atau mungkin juga larut secara dalam dan melibatkan perasaan ke dalam kenangan-kenangan yang pernah singgah di hidupku yang sudah 26 tahun ini. Aku ingin punya kehidupan baru, Ren. Melepas dan melupakan semua permasalahan dan kerumitan hidup. Beserta ingatan mengenai orang-orang yang pernah kutemui dalam kehidupan yang tergurat oleh realitas yang tak seindah impian surga. Tidak ada yang sempurna. Dan entah sudah kali berapa mantera itu ditiupkan ke dalam otak idealis macam punyaku ini. Aku tahu. Hanya saja secara sadar ataupun tidak, mantera itu tidak pernah dapat sepenuhnya kuterima atau mungkin kumengerti. Jika realitas tidak ada yang sempurna… sungguh tidak adakah yang sempurna? Mengapa?

Kau mungkin akan menamparku karena pertanyaan yang sama sekali bukan retoris itu. Menyuruh untuk bangun dan berhenti jadi gila. Tapi bahkan keberadaanmu saja telah menjadi satu mimpiku yang mustahil terjadi. Ren, di kehidupan ini, cukupkah kiranya untuk kuakhiri di sini saja? Karena ceritaku laiknya kisah tak berujung yang titik selesainya tidak mampu kubayangkan. Aku tahu tiap-tiap kelokannya adalah realitas yang harus dijalani dan diterima. Namun mengapa tetap saja diriku tak mampu membuka hati terhadap hal-hal yang memang tidak sempurna itu? Ren, kalau kamu ada di sini, apa yang akan kau katakan?

Advertisements