Perjalanan (Bagian 2)

Jam belum menunjukkan pukul 3 dini hari ketika aku bersama kedua orang tuaku melangkah keluar dari hotel menuju Al-Nabawi, mesjid yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah, yang pagarnya hanya berjarak satu gang kecil dari hotel tempat kami menginap. Kami harus melewati sederet hotel dan pertokoan kecil untuk menuju mesjid Nabawi. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari tiga menit berjalan kaki menuju Al-Nabawi. Aku melihat orang-orang berjalan berbondong-bondong menuju mesjid dari berbagai arah di salah satu waktu paling indah dalam hidupku itu. Perasaan haru kembali memenuhi dadaku, dan lagi-lagi air mata mengaburkan pandanganku. Lampu-lampu Al-Nabawi yang kabur kian menyilaukan di mataku. Aku dan Mama mempercepat langkah kami ke pintu gerbang masuk mesjid untuk jemaah perempuan setelah Ayah menunjuk satu tiang di halaman mesjid sebagai spot untuk bertemu nanti selepas Subuh.

Melalui pintu mesjid yang belakangan kuketahui sebagai pintu Uthman Ibn Affan, sahabat Rasulullah SAW, seorang aristokrat muda yang menjadi salah satu dari empat khalifah yang memimpin dunia Islam setelah Rasulullah SAW wafat, aku, untuk pertama kalinya, sambil bergandengan dengan Mama, memasuki Mesjid Al-Nabawi. Ah ya, benar, masih pukul 3 dini hari. Namun pintu-pintu mesjid yang dibangun di tempat yang dulunya adalah kediaman Rasulullah Muhammad SAW itu, sudah dikerubuti orang-orang yang berlomba-lomba masuk untuk melaksanakan sholat demi pahala 1000 kali lipat.

Drum-drum berwarna broken white tempat air zam-zam diletakkan, berjejer menyambut aku dan Mama yang berjalan cepat menyongsong tempat terdepan. Aku melengkapkan sholat malamku di mesjid terindah yang pernah kulihat itu dengan rasa haru yang membuncah ke dalam uraian air mata. Aku telah mencintai Al-Nabawi. Ketika Subuh tiba, aku kembali merasa kagum akan keindahan suara sang muadzin yang mengumandangkan adzan terindah yang pernah kudengar. That was the first and the last time I heard the voice during our three-day stay in Medina. Karena para muadzin yang berbeda yang mengumandangkan adzan di waktu-waktu sholat selanjutnya.

Usai sholat Subuh, aku dan Mama bergegas menuju salah satu tiang mesjid Al-Nabawi yang ditunjuk Ayah tadi. Namun Ayah tak pernah datang. Masya Allah, Dad was lost! Sejam berikutnya, aku bersama Mama, dibantu seorang petugas dari tur kami, ‘latihan sa’i,’ maksudnya mondar-mandir mencari-cari Ayah di mesjid, kamar hotel, lobi hotel, hingga tempat makan. Ayah memang sudah sepuh. And I must say that his ability to recognize directions has deteriorated. Alhamdulillah, kami berdua akhirnya bertemu Ayah di tempat makan. Selepas sholat Dzuhur, Ayah kembali menghilang. Aku ingin tertawa mengingat hal itu. Tapi saat aku dan Mama ada di situ tengah mengalami kejadian itu, it was not funny at all. Both Mom and I were extremely worried about Dad. Ketika bertemu Ayah, kami merasa lega luar biasa. But it was full of drama, after.

Mungkin itu cobaan Allah SWT untuk keluarga kami. Aku percaya setiap keluarga, setiap orang yang ada dalam perjalanan umroh dan haji akan menghadapi cobaan mereka masing-masing. Bagiku cobaan dari Allah menyangkut Ayah dan Mama. Bagi keluarga lain, cobaan yang berbeda insya Allah dihadapkan oleh Allah. Bagi seorang ibu dan anak perempuannya di rombongan kami, misalnya, cobaannya adalah masing-masing bagi masing-masing. Si ibu dan anak ini selalu bertengkar selama perjalanan. Bahkan dalam tour bus yang membawa kamipun, keduanya duduk berjauhan. Si anak bahkan tidak mau membawakan barang si ibu. Well, silakan merasa heran!

Ada cerita lain.

Advertisements

Perjalanan (Bagian 1)

Do’a-do’aku mesti sampai

asa untuk melakukan perjalanan yang telah sekian lama kuniatkan

ada misteri

dalam setiap kisah perjalanan

April

tanggal 3

pembuka perjalanan paling luar biasa

Madura-Surabaya-Jakarta-Jeddah

Allah telah memanggilku~

Catatan Perjalanan

“Insya Allah, Ayah, nanti kita sama-sama ke sana.” Aku mengatakan itu tahun lalu pada Ayah ketika aku masih di tengah studi masterku di Korea. Kata ‘sana’ bukanlah Korea. Aku tidak mengharapkan kehadiran kedua orang tuaku di Seoul di hari wisudaku. Apalah artinya hadir di suatu upacara duniawi tempat pengukuhan gelar duniawi? Hanya pengakuan Allah yang penting, ingat atau tidaknya aku. Meskipun Ayah dan Mama sudah ingin datang, Ayah bahkan sudah mengirim kakak iparku ke kedutaan Korea Selatan untuk menanyakan prosedur pengurusan visa ke Korea, aku meyakinkan keduanya bahwa perjalanan menuju wisudaku tidaklah penting.

Perjalanan yang ingin kulakukan bersama Ayah dan Mama bukanlah perjalanan ke Korea.

“Sana” adalah Baitullah.

Ayah, Mama, dan aku punya cobaan kami masing-masing sebelum benar-benar berangkat ke Tanah Suci. Untukku, cobaan yang diberikan Allah berkaitan dengan masalah kewanitaan alias masalah tamu bulanan yang rutin datang. Dua orang ahli medis memberikan resep pil untuk menunda kedatangan tamu bulananku. Kuminum sesuai anjuran keduanya. Namun tiga hari sebelum keberangkatan, tamu itu tetap datang.

Masa-masa itu adalah masa-masa emosional bagiku. Berbagai prasangka kurang baik terhadap Allah SWT tersirat di hatiku. Pertanyaan-pertanyaan manusiawi bermunculan dalam hati. Lagi-lagi Ayah mengingatkan untuk tidak berprasangka buruk apalagi terhadap Allah SWT. Bukankah Allah yang berkuasa atas segala sesuatu? Jadi apapun yang terjadi nanti, bukankah mestinya aku menerima itu dan berserah diri pada Ilahi? Tugas manusia hanya berusaha. Yang memutuskan tetap Sang Rabb. Aku memutuskan untuk berangkat dengan mantra itu di hatiku. Sebelum menulis apapun lagi, kuberitahu satu spoiler, Alhamdulillah, selama perjalananku di Jeddah, Madinah, Mekah, tamu bulanan itu tidak datang.

Dengungan Salawat saat Memasuki Al-Madinah

Ayah, Mama, dan aku mendarat di bandar udara internasional King Abdul Aziz, sore hari setelah sembilan jam perjalanan Jakarta-Jeddah bersama enam belas orang anggota grup kami yang lain. Jeddah belum gelap ketika kami berjalan memasuki bandara yang dirancang berbentuk tenda-tenda besar berwarna putih itu. Ada perbedaan waktu empat jam antara Waktu Indonesia Barat (WIB) dengan waktu Jeddah. Jarum jam tanganku menunjuk angka 7.30 malam. Waktu setempat menunjukkan pukul 3.30 sore. Di terminal haji, kusadari bahwa tidak ada gambar iklan yang memperlihatkan gambar perempuan. Belakangan kudapati bahwa tidak ada iklan billboard ataupun iklan dalam medium poster yang memperlihatkan sosok perempuan di Arab Saudi. I felt a sudden proud of the Islamic country.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil koper, rombongan kami langsung menuju bus yang akan membawa kami selama rangkaian perjalanan di Arab Saudi. Malam menggelayut pelan seiring bus kami yang bergerak menuju tujuan pertama kami, Madinah. Perjalanan itu terasa singkat. Before I went to Saudi Arabia, as an Indonesian, I had a very rigid image about the country. Dan melihat sisi-sisi jalan beraspal yang terlumuri pasir gurun di gelapnya awal malam Jeddah, it was an undefinable feeling. Atau mungkin aku bahkan tidak mengalami perasaan spesial apapun saat itu. Karena mungkin aku merasa gurun pasir yang pekat, hanya disinari cahaya lampu-lampu kota, itu adalah sesuatu yang terlalu tidak nyata untuk dipercaya, too surreal.

Setelah sekitar 5 jam perjalanan dengan bus, tour guide kami berkata bahwa bus akan segera memasuki kota Madinah. Ia membimbing kami para rombongan perjalanan untuk bersalawat. Pelan-pelan butiran air mata mengalir membasahi kedua pipiku. Ada rasa haru yang kuat yang kurasakan, kekaguman akan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, rasa rindu, rasa takjub akan kisahnya yang digariskan Tuhan begitu indahnya. Sepanjang perjalanan memasuki kota Madinah, dengungan salawat terus terdengar dalam bus yang membawa kami menuju hotel. It was a magnificently beautiful entry.