Best Season of the Year

Semestinya aku tahu bahwa seringkali apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Lebih buruk atau lebih baik, bisa dua-duanya, relatif, ya. Tapi yang jelas, tidaklah sama.

Musim gugur misalnya, lebih indah dari yang pernah kubayangkan sebelumnya. Jauh lebih indah. Berjalan sendiri di jalan utama universitas yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan yang mulai menguning di bawah udara seperti AC tapi lebih menyegarkan, setelah menghabiskan beberapa lama di perpustakaan yang sunyi dan mendamaikan, jauh lebih indah daripada yang selalu kubayangkan. Tumpukan buku di tangan, jaket, dan sepatu boot. Dan orang-orang yang berlalu-lalang. Indah.

Atau kembali ke Indonesia lagi setelah satu setengah tahun, Indonesia yang ini tidaklah seperti yang kubayangkan. Tidak pernah aku membayangkan aku akan bertemu orang-orang sekorup itu di negaraku sendiri, misalnya.

Tapi musim gugur yang kubayangkan itu, tidaklah sama tanpa kamu, ya.

Dunia yang kutinggali, tidaklah sama kalau kamu tidak ada di situ.

Sejak kapan pula ya aku merasa aku akan pergi ke manapun asalkan kamu bersamaku?

Hah, pikiran-pikiran seperti ini hanya muncul ketika musim gugur datang.

Musim untuk membaca, kata peribahasa Korea. Dan memang rasanya membaca ketika musim gugur is way beyond my imagination.

Sampaikah apa yang kumaksud?

Bagaimana kamu akan membacanya?

Pasti dengan elegan dan tenang, ya. Karena begitulah kamu.

Bukankah kamu adalah orang yang kuterima?

Advertisements

Jujurlah Selagi Bisa

Alhamdulillah,

Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagia aku hari ini. Karena aku tidak membiarkan kisahku berakhir dengan penyesalan. Aku sudah memutuskan untuk jujur.

Aku ini, tidak bisa berpura-pura. I’m a bad actress. Meski sekuat apapun aku mencoba berpura-pura, aku tidak bisa menipu diriku. Aku menganggap pekerjaan berpura-pura adalah hal serius. Artinya penyangkalan terhadap apa yang sebenarnya kurasakan. Penyangkalan terhadap diri.

Aku menganggap semua hal serius. Aku menganggap tanggung jawabku serius, aku menganggap kuliahku serius, hubunganku dengan orang lain serius. I take my heart seriously. Tentu saja, apalagi tentang perasaanku sendiri.

Dan berkali-kali membohongi perasaanku, aku sudah tahu bagaimana rasanya. And it just didn’t work. Berkali-kali mencoba menghapus apa yang kurasakan dan kupikirkan tidak juga berhasil.

So, yes, this is the best thing that I could do.

I have done everything I could, and now I’ll let Allah decides.

Aku harap kamu mengerti.

Sekarang aku mau mengerjakan tesisku lagi. I take my thesis seriously too, haha.

Revolusi Pikiran

Sudah berapa lama ya,

sejak terakhir kali aku mengatakan sesuatu padamu?

Tentu saja, aku ingat.

Untuk hal itu, aku ingat.

Dan dorongan untuk menulis, sekarang begitu kuat, sehingga aku tidak sanggup menunggu hingga esok pagi. Berapa lama sudah aku kehilangan pagi?

Dan tiba-tiba saja, aku ingin bicara denganmu. Ada banyak hal yang ingin sekali kukatakan.

Yura.

Aku mengambil kelas Hukum Internasional semester ini. Lebih menarik dari yang kubayangkan setelah aku mulai membaca bukunya. Kenapa dulu sama sekali tak terpikir di kepalaku untuk mengambil jurusan hukum ya?

Lalu,

lalu ya, setelah menyelesaikan tesisku dan lulus, ada hal-hal yang ingin kupelajari lebih jauh. Tentang humanitarian aid, NGOs, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aah, kenapa ilmuku begitu dangkal? Kenapa aku tak membaca lebih banyak buku? Tak belajar lebih banyak lagi?

Aku belajar bahasa Korea lebih jauh lagi, Yura.

kali ini sendiri. Aku tidak mengambil kelas bahasa semester ini.

Saat ini ya, jarang sekali bisa menemukan orang yang akan duduk diam, hanya diam dan mendengarkan aku bicara tentang apa yang ingin kulakukan. Dan sejak kapan ya, perubahan-perubahan yang terjadi dalam pikiranku terasa seperti ombak yang pasang lalu surut. Tidak bisa diprediksi.

Aku yang berusia 17 tahun itu, tidak sama lagi dengan aku yang sekarang.

Aku benar-benar berubah ya.

Bahkan akupun tidak bisa menebak lagi ke mana pikiranku akan membawaku. Di saat-saat seperti ini, ketika pikiranku meledak-ledak karena menemukan hal baru untuk melakukan revolusi, aku ingin bicara denganmu. Keegoisan yang sudah kuterima sebagai kebiasaan. Masih maukah kau mendengarkan aku kapanpun aku mau bicara?

Impossible, ne.

Tokugawa Hidetada dan Gou-sama

Sudah cukup lama aku menunggu akhir cerita drama Taiga- drama yang diputar selama satu tahun (sekali dalam seminggu), Gou-Himetachi no Sengoku. I was craving for the Taiga drama since the early year of 2011.

Latar belakang taiga drama ini adalah zaman Sengoku alias The Warring Period yang terjadi di Jepang. Ketika masyarakat Jepang masih merupakan masyarakat feudal, di mana para Daimyo (tuan tanah) hidup di bawah kekuasaan kaisar dan seorang diktator militer yang disebut Shogun. Hanya satu orang di antara banyak clan samurai yang bisa meraih gelar Shogun dan hanya kaisar yang bisa memberikan titel Shogun pada Lord yang dia kehendaki.

Pada akhir masa the Warring period, klan Tokugawa berkuasa. Shogun pertamanya, Tokugawa Ieyasu merupakan pemimpin yang setia dan sabar. Shogun pertama dari klan Tokugawa ini memiliki lebih dari delapan orang putera dari sekian banyak selirnya. Putra favoritnya bernama Tokugawa Hidetada, pewaris kekuasaan shogunate Tokugawa, membuatnya menjadi Shogun kedua dari klan Tokugawa.

Tokugawa Hidetada adalah suami dari Gou, pusat cerita dari Taiga drama Gou-Himetachi no Sengoku yang tadi kusebut. Terus terang karena melihat Mukai Osamu memerankan tokoh Hidetada, aku jadi tertarik membaca lebih banyak tentang Hidetada-sama (akhiran ini menunjukkan panggilan honorific yang ditujukan pada seseorang).

Mukai Osamu memerankan Tokugawa Hidetada

Princess Gou diperankan oleh Ueno Juri

Sekadar informasi, Gou sudah menikah dua kali sebelumnya. Hidetada adalah suami-nya yang ketiga. Dan Gou 6 tahun lebih tua dari Tokugawa Hidetada. Sekarang mulai mengerti, kan, kenapa Tokugawa Hidetada istimewa bagiku.

Tokugawa Hideta tercatat dalam sejarah sebagai seorang strategis perang yang ‘biasa-biasa’ saja. Dia pernah kalah dalam perang, tapi pernah pula memenangkan perang. Seperti samurai-samurai lain di zaman Sengoku Jepang. Tapi Hidetada melanjutkan tradisi ‘cinta damai’ klan Tokugawa bersama Gou.

Anak-anak dari pasangan ini, salah satunya Princess Sen (cucu kesayangan Tokugawa Ieyasu) dan Prince Iemitsu (pewaris tahta, menjadi Shogun ketiga klan Tokugawa). Iemitsu sendiri adalah Shogun pertama selama 16 generasi berturut-turut yang merupakan anak dari pewaris tahta dengan istrinya bukan dengan selirnya. Tokugawa Hidetada dan Gou adalah sama-sama sosok yang tidak menyukai perang. Dan pasangan ini mengawali generasi baru perubahan di Jepang.

Gou-sama meninggal terlebih dulu. Dan Hidetada-sama, hingga akhir hayatnya juga, tetap menikah dengan Gou.

Such a remarkable man.

Ini adalah gambar O-Gou-sama

Dan gambar Tokugawa Hidetada-sama