Karakter tanpa Masa Depan

Ada beberapa tokoh yang sejak mereka diciptakan oleh penulisnya ditakdirkan untuk membuat semua orang jatuh cinta.

Tokoh-tokoh itu dilahirkan bukan untuk menjadi pemeran utama.

Mereka  ada untuk satu tujuan, menjadi bagian terindah dalam hidup sang pemeran utama. Membantu sang pemeran utama bangkit, mengobati luka-lukanya, dan mendorongnya untuk menjalani hidup di masa depan.

‘Fujii Itsuki’ dalam Love Letter.

‘The Prince’ dalam The Little Prince.

Dan,

dan ‘Go Seung Suk’ dalam Fly, Daddy, Fly.

Supaya aku tidak lebih lama membuat semua orang bertanya-tanya tentang apa maksudku, sebaiknya aku perkenalkan siapa tokoh-tokoh itu ya.

Fujii Itsuki dalam Love Letter adalah seorang remaja laki-laki berusia sekitar 15 sampai 16 tahun. Pendiam dan penyendiri. Karakter yang jago dalam hal olah raga, suka melukis sketsa, dan sering meminjam buku-buku yang tidak pernah dibaca seorangpun dari perpustakaan hanya agar namanya tertulis di kartu-kartu buku itu. Agak aneh memang. Tapi ia peduli dan pemberani. Ia membiarkan teman-teman sekelasnya mengolok-oloknya, tapi bangkit melawan ketika sang pemeran utama diolok-olok. Fujii Itsuki pantang menyerah, keras kepala dan tidak akan membiarkan siapapun menghentikannya jika ia sudah bertekad untuk melakukan sesuatu.

Ia mengubah sang pemeran utama.

Fujii Itsuki adalah cinta pertama sang pemeran utama.

Ia pindah sekolah di tahun ketiganya di SMP.

Sejak saat itu, sang pemeran utama tidak pernah melihatnya lagi.

Fujii Itsuki meninggal bertahun-tahun setelah itu.

Lalu ada sang ‘Little Prince’ dalam ‘The Little Prince”. Pangeran kecil berusia 6 tahun yang datang dari planet asing. Ia terdampar di bumi membawa segudang cerita tentang persahabatan. Pangeran kecil itu polos dan lugu, lembut hati, punya semangat belajar yang tinggi, dan rela berkorban. Ia bertemu sang pemeran utama di padang pasir Sahara ketika pesawat sang pemeran utama rusak kemudian terdampar. Rambut sang pangeran kecil berwarna kuning keemasan seperti padang yang menguning,¬† ia punya senyum paling renyah sedunia, dan ia suka bertanya.

Lantas bagaimana nasib sang pangeran kecil selanjutnya? Ia meninggal, kawan. Meninggalkan sang pemeran utama yang kembali merasa sendiri tanpa sahabat. Seumur hidupnya, ia tidak akan pernah melupakan sang pangeran kecil berambut keemasan itu.

Lalu ada Go Seung Suk dalam Fly, Daddy, Fly. Seung Suk juga seorang remaja laki-laki yang tengah menjalani masa SMA-nya. Ia punya bakat dalam berkelahi tapi tidak suka berkelahi. Menurutnya hanya orang bodoh yang berkelahi. Lalu tebak apa yang dia suka? Ia suka membaca buku. Ada banyak adegan di mana ia membaca buku. Ia akan bicara hal yang bermakna atau diam. Dan setiap kali ia bicara, suaranya seperti datang dari surga.

Seung Suk, punya mata terindah sedunia, haha.

Ia juga pendiam dan tidak peduli. Tokoh yang punya masa lalu kelam, kesepian dan punya ketakutannya sendiri. Tapi Seung Suk peduli. Ia memutuskan untuk menolong sang pemeran utama yang tengah putus asa karena merasa tak mampu melindungi putrinya. Sang pemeran utama, seorang tipe salary-man yang secara fisik lemah dan selalu mematuhi peraturan.

Lalu bagaimana kisah Seung Suk berakhir? Dia tidak mati seperti dua karakter sebelumnya. Ia melanjutkan hidup. Hidup yang seperti apa? Tidak ada yang tahu. Tapi setidaknya Seung Suk pernah berkata bahwa ia tidak ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dan ia tidak ingin bekerja untuk orang lain. Bagaimana ia melakukan itu? Ia akan menemukan caranya.

Semua karakter-karakter itu ada untuk membuat hidup sang pemeran utama bermakna. Semuanya laki-laki. Mungkin karena aku perempuan. Ayahku bilang, ada semacam ketertarikan psikologi untuk menjelaskan bias ini. Sama seperti keterikatan antara aku dan Ayah, anak-anak perempuan lain dengan ayah-ayah mereka, anak-anak laki-laki dengan ibu-ibu mereka. Begitulah.

Yah, kembali ke bahasan tentang karakter-karakter tadi. Ngomong-ngomong semua karakter itu punya masa lalu. Mereka hadir di waktu singkat dalam hidup sang pemeran utamanya, tapi meninggalkan hal indah yang tak tergantikan. Mereka mengubah sang pemeran utama menjadi seseorang yang berbeda. Lebih berani, lebih menghargai hal-hal kecil, dan lebih siap menghadapi hidup mereka di masa depan. Tapi karakter-karakter yang membuat semua orang jatuh cinta itu sama-sama tidak punya masa depan. Mereka semua muda, polos, idealis, indah…

dan mereka akan tetap begitu.

Mereka dilahirkan tidak untuk bertambah tua.

Mereka diciptakan tidak untuk berubah.

Tidak untuk rusak.

Bagaimana kisahku akan berakhir?

Akukah sang pemeran utama atau sang karakter tanpa masa depan?

Advertisements