Live Decently

Hanya bahagia.

Itu saja yang kurasakan.

Alhamdulillah. Puji syukur pada Tuhan ya. Yang memberi kesempatan pada esensi di dalam diriku untuk merasakan hidup.

Cerita seperti apa yang akan kuhadapi di hari esok? Aku tidak ingin tahu. Tidak perlu tahu.

Berkutat dengan buku, pusing dengan paper yang harus kutulis, dan berada di kelas-kelas di mana ide-ide paling cemerlang, fakta-fakta paling menakjubkan dibagi, dibicarakan, didekonstruksi habis-habisan. Surga!

Lalu sejak tahun ini aku mengajar di universitas. Memang bukan mengajar ‘lecturing’ tapi mengajar ‘tutoring’, karena orang dengan pendidikan yang belum tamat master sepertiku tak pantas ‘lecturing’ (which I totally can understand. I don’t lecture, not now haha). Tapi apapun bentuknya di mana aku bisa membagi pengetahuan yang kuketahui pada orang lain, itu adalah saat aku ingin berada. Pengalaman mengajar pertamaku sama sekali berbeda dengan yang selama ini selalu kubayangkan. Aku tak punya ruang kelas. Sebagian besar tutoring dilakukan melalui online. Beberapa kali perkuliahan dilakukan di ruang kelas. Di mana ada aku dan mahasiswa-mahasiswaku.

Perkuliahan terakhir di kelas kemarin membahas tentang lembaga legislatif (I tutor introductory course of political science, yes). Tapi pembahasan sampai pada ICBM (Intercontinental Ballistic Missile), senjata nuklir, perang Iraq, 9/11, hingga security dilemma milik arena International Studies. Heaven, heaven, heaven. Aku tidak bisa berhenti tersenyum saat ini.

I got all I need.

Dan Ayah dan Mama baik-baik saja.

Dan Ci’ baik-baik saja.

Dan hidup tidak sempurna.

Aku tahu itu. Dan itu sudah cukup.

I live decently.

Life is content,

and simple, as it is.

Alhamdulillah.

Advertisements