The Little Prince by Antoine De Saint-Exupery (1943)

I just finished reading this crazily famous children story yesterday.

I was wondering why the story is so famous. Why my friends talked about it many times. Why Korea even made Le Petite France area where you can find Saint-Exupery’s miraculous character everywhere in and out of the Frenchly-designed houses and buildings.

I think I understand after I read the English-translated book.

The book tells a story about a pilot whose plane was broken and he lands at a desert. When he tries to fix his plane engine, this extraordinary little fellow stands before him asks,

“Please, draw me a sheep”.

The Little Prince brings the pilot to his innocence when he was a six-year-old boy by asking the pilot to draw him a sheep to save the Prince’s little planet from Baobabs trees.

The Little Prince, found the pilot, came from a very far away little planet with three little volcanoes and a rose. His planet is so little that he can see sunset as many as he wants by only moving his chair. In his planet the Baobabs roots grow and he must take them off regularly; because if not the Baobabs trees can destroy his planet. He also starts to mistrust his one and only red rose in his planet because the rose tells him lies so often. But not because the rose is bad, but because she wants to impress him. But only when he is about to escape from his planet that she says,

“Of course I love you,” the flower told him. “It was my fault you never knew…”.

During his journey to find friends, the Little Prince meets lots of fellows in different planet from a king, a businessman, a geographer, until he falls down to the Earth and meets the pilot. During his journey, he learns from everyone he meets and they learn from him.

The Little Prince is a character everyone will easily fall in love with.

There are some of the Little Prince’s words that I really like.

The story is simple and very well-written. It is cute and funny in some parts, yet has meaningful messages. I think ‘The Little Prince’ is a book every child should read.

I know a planet inhibited by a red-faced gentleman. He’s never smelled a flower. He’s never looked at a star. He’s never loved anyone. He’s never done anything except add up numbers. And all day long he says over and over, just like you, ‘I’m a serious man! I’m a serious man!’ And that puffs him up with pride. But he’s not a man at all – he’s a mushroom!” – the Little Prince

“One must command from each what each can perform,… Authority is based first of all upon reason.” – the king in the first planet

“I admire you. But what is there about my admiration that interests you so much?” –  the Little Prince to the very vain man in the second planet.

“I thought I was rich because I had just one flower, and all I own is an ordinary rose. That and my three volcanoes, which come up to my knee, one of which may be permanently extinct. It doesn’t make me much of a prince…” – the Little Prince in the planet Earth.

“For me you’re only a little boy just like a hundred thousand other little boys. And I have no need of you. And you have no need of me, either. For you, I’m only a fox like a hundred thousand other foxes. But if you tame me, we’ll need each other. You’ll be the only boy in the world for me. I’ll be the only fox in the world for you… “ – the fox in the planet Earth.

Advertisements

Yang Terlintas di Pikiranku

Baru kali ini ada seseorang yang tak bisa kudeskripsikan.

Berawal dari percakapan dengan seorang teman yang tiba-tiba saja membicarakan seseorang yang kutahu dari tempat kuliahku.

“Kau mengenalnya, kan? A Russian-Korean guy we met last time?”

Aku menyebutkan namanya,

Yeah, that guy. What do you think about him?”

Well, he’s, he’s….“, lalu aku tak bisa melanjutkan. Bukan karena aku tak begitu mengenalnya. Kami mengambil dua kelas yang sama semester ini, kami sama-sama anggota klub debat, kami tinggal di asrama yang sama, menerima beasiswa yang sama, dan ada di semester yang sama. Kami ada di kelompok belajar yang sama dan seringkali mengobrol. Tapi aku kehilangan kata-kata ketika pertanyaan itu muncul. Orang seperti apa dia ini? Aku tidak bisa menjawabnya.

Oke. Supaya pembaca tidak bingung, aku harus menjelaskan ini. Aku biasanya menilai seseorang dan mengasosiasikan orang itu dengan hal-hal atau sifat-sifat tertentu. Ketika aku berpikir tentang sahabat masa kecilku, aku akan langsung mendeskripsikannya sebagai seseorang yang setia, sedikit rendah diri, royal, senang belanja, hangat dan penyayang. Ketika aku ditanya tentang Icha, aku akan mendeskripsikannya dengan kata-kata supel, bersahabat, punya banyak teman, jago menyanyi.

Lalu Horeb: pintar, jago komputer, know how to earn money, fashion holic, setia kawan.

Za: keras kepala, harus selalu mendapatkan yang ia inginkan, penyayang, setia, very very smart.

Inal: supel, punya prasangka baik, warm-hearted.

Ha: pretty! ^^, baik hati, tidak sombong, pintar, rajin, great roomate (she really is an angel).

Husnul: suka Jepang, lambat, very lovely, very very loyal!!!

Mama: Lembut, super-loyal, pendiam, jago masak, my everything.

Ayah: Warm-hearted, Islamic-minded, dermawan, pengajar, an all around good person, super loyal, he is the one I want to be.

Nana (that’s me!!): bold, keras kepala, kekanak-kanakan, harus selalu mendapatkan yang dia inginkan, gampang marah, perfeksionis (who can stand a person like this, seriously?!).

Aku juga bisa mendeskripsikan musuhku, atau orang-orang yang tak kusukai.

Well, my point is, I see people. Ketika bertemu dengan seseorang, aku tahu orang seperti apa orang itu. Dari cara mereka bicara, cara mereka makan, bahkan dari cara mereka diam dan memperhatikan ketika orang lain bicara. I just know. Makanya jarang sekali aku akan menyukai orang yang tidak kusukai dari awal.

Those defined my enemies since the beginning will remain my enemies. Friendships, however, are more complicated than that. Friendships defined by getting along well, fighting, getting along great, fighting again, getting along again. Other lovely relationships are as complicated.

Intinya, ketika seseorang terlintas di pikiranku, akan ada sifat-sifat orang itu yang bisa kubayangkan dan kuasosiasikan dengannya.

Tapi aku tidak bisa mendeskripsikan si Russian-Korean guy itu.

As if what he has shown me was a fake.

as if it was a mask.

Aku tidak mengerti orang itu.

Orang seperti apa ia sebenarnya, aku sama sekali tidak tahu, tidak mengerti, dan tidak ingin mengerti.

Hhhhh, just a ramble in my last exam night!

Have you ever met an ‘undefined-person’?

A Prayer for My Last Dawn

The sun rising for me the next day

after the late dawn hopeless

worrisome

guilt

and fear

After the rain drops heavily

from the crystally layer of a person’s soul

 

I fear late dawn

when lots of souls gave up

couldn’t bear to face a new day

 

When my time comes

when it was my last dawn

no one but You can save me

 

You’ve protected me every time the sun rises

in my last dawn,

more than ever,

protect me from my weaknesses

Amin.

Selamat Tinggal

“Aku ingin melihat dunia dari matamu”

Misalnya saja, kenapa lampu-lampu kota di bawah bukit terlihat begitu cantik? Mengapa pasir salju yang terangkai di antara rumput-rumput liar yang kecokelatan bersinar seperti kristal tapi lembut ketika disentuh? Mengapa, salju yang menarikan musik angin yang semilir terlihat seperti sihir yang menakjubkan di matamu?

Desember 2010,

kalau kukatakan aku telah bertemu seseorang yang membuatku ingin melihat dunia dari matanya, maukah kau percaya?

“Tidak”, langkah kami serempak di antara lalu lalang orang-orang di bawah terowongan yang menuju ke universitas kami. Suara kereta melalui rel di atas terowongan menggema di lorong temaram itu. Sore, salju telah berhenti turun. Pertigaan besar di depan pintu gerbang sekolah kami dipenuhi mobil-mobil yang bergerak perlahan di tengah jalan yang licin karena salju yang mencair. Kami berdua berlari menyeberangi jalan besar itu begitu lampu tanda penyeberangan berubah hijau.

“… pertama, tidak ada orang gila yang mau bertukar tempat dengan orang lain. Apalagi orang aneh sepertimu..”,

kami masih berlari,

“… dua, kenapa pula kamu ingin bertukar tempat dengan orang itu? Life’s that bad?”

Life’s good“,

Are you sick?

Nah“.

kami berdua berhenti berlari begitu kami menginjak trotoar.

“Jadi, orang itu istimewa?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Hanya saja, aku ingin ia melihat dunia yang kulihat. Bertukar tempat sebentar saja.

Biarkan aku, melihat dunia dari matamu.

Karena aku tak bisa mengatakan itu, aku membiarkanmu pergi, ya.

Tapi biarpun aku mengatakan itu, seperti yang temanku bilang, kau akan berpikir aku tidak waras. Karena kamu selalu berpikir sederhana. Tanpa beban dan tak pernah menggurui. Mudah ditebak dan konformis.

Tapi kamu melihat dunia yang berbeda. Berbeda dari mereka semua, dan aku.

“Di mana orang itu sekarang?” Aku bersama temanku berjalan menyusuri jalan utama universitas yang penuh orang-orang dengan buku di dekapannya atau tas ransel di pundaknya, atau high heels dan parfum, atau make up dan fashion show. Di kanan kiri trotoar jalan utama itu, pohon-pohon ceri yang berbunga sakura di kala musim semi berdiri sendu diterpa angin musim dingin.

Aku tidak tahu. Lima tahun kurasa, aku tak pernah lagi bertemu dia. Ia selalu ada di situ sebelum itu. Di tempat-tempat di mana aku berada. Lantas menghilang. Seperti daun yang gugur dan pergi bersama angin yang tak tahu kapan kisahnya akan berakhir.

Tapi baru beberapa hari yang lalu aku melepaskannya.

“Rasa sukakah?” kami berdua tetap melangkah menyusuri jalan utama itu menuju gedung kuliah kami yang terletak di kaki bukit. Aku menggeleng.

“Hanya seorang teman yang kutemui dalam satu masa hidupku…” aku tersenyum pada wajah familiar yang ada di sampingku itu,

“Mungkin aku tak akan pernah bertemu dia lagi”, lanjutku.

seperti aku yang mungkin tak akan pernah bertemu kau lagi.

I see“,

New Millenium Hall berdiri kaku di ujung jalan yang terbelah pertigaan itu. Gedung tempat kuliahku pukul 3 sore ini. Kami berdua berlari kecil menuju pintu belakang gedung berbentuk tumpukan persegi itu, melewati pohon magnolia yang gundul, dan jalan yang licin.

Salju turun kembali.