Kembali ke Dulu (5)

Tahun ini aku masuk SMP. Years of rebellions. The dark ages. Saat itu aku tak pernah tahu ya. Bodoh dan melakukan apapun tanpa tahu konsekuensinya. Muda dan gampang sekali marah karena hal-hal kecil. Memusuhi dan membenci semua orang. Hidup sesukaku. Bercanda saat guru matematika-ku menjelaskan pelajaran. Entah sejak kapan aku tidak menyukai matematika. Aku masih ingat ketika di Taman Kanak-Kanak, ada soal-soal matematika di hadapanku, penambahan beruntun. Dan aku sama sekali tidak mengerti apa itu. Aku masih ingat sampai saat ini, Ayah mengeluhkan metode pengajaran itu. Tak berhenti bertanya-tanya kenapa mereka memberikan soal seperti itu untuk anak berusia empat sampai lima tahun. Shhhh!

Aku penyuka komik saat aku SMP. Cuckoo adalah karya komikus Watanabe yang sangat kusukai. Aku mengidentifikasi karakter utama komik itu. Muda, berbeda, punya kekuataan yang menakutkan, kesepian, membenci dan dibenci semua orang. Namanya Takashi. Pemuda kesepian itu. Komik itu masih menjadi satu-satunya komik yang paling kusukai hingga saat ini.

Aku akan menggambar draft komik ketika aku kelas satu SMP, membiarkan teman-teman sekelasku membacanya, menanyakan pendapat mereka dan mereka akan menunggu edisi berikutnya. Sejak saat itu ya, aku tak melihatmu lagi.

Ren.

Kurasa aku berpapasan denganmu beberapa kali. Berhenti dan saling menanyakan kabar.

Lalu berlalu.

Di saat yang aku tidak ingat kapan. Karena aku tak pernah menyangka bahwa sejak saat itu aku tidak akan pernah melihatmu lagi.

“Ayahmu, apa kabar?”

“Hmm”, aku mengangguk kecil.

Sejak dua tahun lalu Ayah divonis kanker. Beliau sudah menjalani operasi. Operasinya berhasil, tapi Ayah yang sudah sepuh sudah tak sekuat beberapa tahun lalu. Beliau kesulitan berjalan.

Aku ingat ketika suatu hari Jum’at aku menemani Ayah. Beliau berbaring di tempat tidur. Membelakangi aku. Aku hanya melihat punggung beliau yang bergetar. Kusadari Ayah menangis.

Ayah, Ayah.

Kenapa Ayah?

Tahukah kau kenapa Ayah menangis? Karena beliau tak mampu berjalan menuju mesjid dan menjalankan sholat Jum’at seperti yang selalu beliau lakukan setiap minggu bertahun-tahun sebelum saat itu.

Saat itu,

kurasa,

tak ada orang yang lebih menakjubkan daripada Ayah.

Tak ada saat yang membuatku lebih terharu daripada saat itu.

Karena aku tak bisa mengatakan semua itu, aku hanya bilang,

“Ayah sehat”.

Entah kenapa aku tidak bisa sejujur dulu padamu. Kurasa karena apapun yang kuceritakan, tak akan bisa membawamu ke masa-masa itu. Masa yang sudah berlalu. Dan apapun yang kukatakan, kita tak bisa berpura-pura kita punya persamaan di antara kita. Kau tidak di situ bersamaku. Dan kau tak mungkin berbagi ingatan selama sembilan tahun denganku. Apapun yang kujelaskan atau kau jelaskan, tak bisa membuat kita berbagi memori, kan?

“Aku ke sekolah astronomi”, Ren berkata lagi.

“eh?”

“tahun ini baru lulus. Sekarang aku kerja”.

“Di tempat di mana ada teropong bintang?”

Ren tertawa.

Senyum itu mengecil, dan ia menggeleng.

Aku menunggu. Tapi ia tak mengatakan apa-apa lagi.

Advertisements

I’m Rambling

Sepertinya, otakku mulai merindukan sekolah.

Bekerja selama tiga minggu dengan job desc menerjemahkan dokumen dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris memang memberikan sesuatu yang baru. Aku belajar banyak istilah-istilah perbankan dalam dua bahasa itu. Tapi lama-lama, bosan juga.

Karena aku tipe orang yang tidak bisa berkutat dalam satu jenis pekerjaan dalam waktu yang sangat lama, aku akan mengunjungi situs berita yang biasa kubaca, bbc UK. Dan membaca berita-berita tentang international security menjadi hal yang mengasyikkan bagiku. Bacaan bagus untuk mempersiapkan diri sebelum masuk kelas untuk semester berikutnya. Dan lebih daripada itu, mungkin aku bisa mengubah sesuatu. Membuat dunia jadi lebih baik (My Gosh, even I  think that those words are cheesy!).

Dan oh, hari ini aku terlibat percakapan menarik tentang hubungan Korea dan Jepang, Korea Utara dan Selatan, dan Indonesia dan Belanda.

Stop stop.

Itu, adalah obrolanku beberapa minggu yang lalu. Ketika kantorku masih di lantai 5 gedung Shihan.

Kini, kantorku di lantai 12. Di ruangan Global Business Department. Ruangan yang lebih luas, bersama seluruh tim. Lebih sedikit privasi. Tapi merasakan bekerja bersama lebih banyak orang.

Tim di kantorku beberapa kali dalam seminggu, tiap pagi, sebelum mereka mulai bekerja akan berkumpul, berdiri, menerima pengumuman-pengumuman penting, dan meneriakkan yel-yel Shinhan dalam bahasa Korea untuk memacu semangat mereka. Menarik! hmm.

Ini hari ketigaku tidak berpuasa di bulan Ramadhan by the way. Seems like I’m having so much free time don’t I? Maybe. Maybe not.

Di kantor, jika atasanku meminta pekerjaan untuk diselesaikan hari itu juga, aku harus tak melepaskan jari-jariku dai keyboard laptop Toshiba ini hingga 4 jam. It was my first time ever work like that! Interesting! Funny in times, and I felt so much productive. Karena begitu pekerjaan selesai, aku bisa satu demi satu menuntaskan pekerjaan-pekerjaan pribadi yang lain. Sholat, membaca Al-Qur’an, membaca buku, menulis jurnal, atau break down couple of times for cupcakes info or BBC news.

Terutama selama Ramadhan. Berbeda dengan temanku, aku justru merasa lebih produktif.  Sepulang dari kantor aku kadang-kadang akan mengunjungi teman-temanku, silaturrahmi. Berbuka bersama, kemudian kembali ke asrama, sholat Tarawih, nonton drama atau film, membaca sebentar sebelum tidur.

Oh ya ya, aku merindukan sekolah. Tapi saat Ramadhan tanpa sekolah, tapi tetap bisa produktif, aku tak menyangka, rasanya bisa seasyik ini. Bersekolah saat Ramadhan lebih melelahkan secara fisik kurasa. Because I have to listen to lectures, and think, a lot.

Aku daftar panjang acara setelah internship-ku berakhir dan sebelum semester dimulai. konferensi internasional, award ceremony, scholarship award ceremony+camping, aneka meetings. Aku sudah membayangkan pula untuk menuntaskan satu buku selama aku sedang tak berpuasa di bulan Ramadhan, dan lain-lain, dan lain-lain (i have list of fun things to do in my mind, mwahaha). Spend time for and by yourself, before I will be so much busy with someone else, or elses.

I know, I’m rambling in this. Just so.

enjoy summer, everyone!

Fall is around the corner ^^

Mild Breeze

Dia selalu indah.

Akhir minggu kemarin melelahkan secara fisik, emosi. Menjadi panitia summer camp, perjalanan ke luar kota, dan menemani seorang teman yang tiba-tiba sakit dan pingsan karena terlalu lelah. Sendirian. Hanya di depan Tuhan aku bisa menunjukkan kelemahan. Mengatakan aku lelah dan ingin didengarkan. Tidak untuk mencaci atas hal-hal yang kuhadapi. Hanya menangis, dan menumpah ruahkan segalanya. Di depan Tuhan. Karena tak mungkin ada yang mengerti aku seperti Tuhan mengerti aku. Jadi aku menikmati saat-saat itu.

Hari Senin pagi, aku menerima email yang tak disangka-sangka. Seseorang membalas email yang kukirimkan beberapa hari lalu. Isinya sangat sederhana. Polos dan jauh dari arogansi. Lembut menanyakan kabar, normal, dan sangat biasa. Jauh dari drama-queen-thingy. Membumikan hal-hal yang membawaku ke langit. Karena aku sangat melangit dan suka berpikir tentang langit. Seseorang harus sesekali memanggilku dan menyadarakanku untuk tetap memperhatikan bumi.

Tak ada model ceramah yang biasanya kudengar dari orang-orang tertentu ketika aku meminta saran.

Tak ada aksen menggurui.

sederhana.

Seperti angin lembut.

mild breeze.

He is always a mild breeze.

dia baik-baik saja.

dan menjalani hal yang ia sukai.

mengetahui itu, sudah cukup.

karena begitulah aku dan dia. partikel-partikel bebas yang dipertemukan di suatu momen, cocok tapi tidak mengikat, saling mendukung dan berusaha. Aku ingin meraih hal yang lebih baik dan hebat lagi, karena dia melakukan hal yang sama. Aku ingin melampaui dia, yang makin lama makin hebat. Jadi di manapun kau berada,

aku akan mendukung kemajuanmu. dan aku akan berusaha melampauimu.

aku tidak  membalas emailnya lagi.

mungkin nanti.

beberapa hari, bulan, atau tahun lagi aku akan menuliskan hal yang sama. Entah kapan.

“apa kabar?”

“genki?”

Alhamdulillah,

aku baik-baik saja.