I’m a Posmo

IMG_6931

Aku pernah mengatakan pada seorang teman,

“Gue kaget. Gue ternyata sangat postmo”.

di banyak tempat dan waktu, ketika membaca satu teks, terbersit sesuatu dalam pikiranku tentang teks itu. Lalu pikiran yang lain muncul untuk men-dekonstruksi pikiran sabelumnya. Aku ingat satu kejadian ini,

Mataku terpaku sebentar pada satu pengumuman yang tertempel di papan pengumuman fakultas. Judulnya, hmm… kalau tidak salah, Menjadi Mahasiswa Sejati. Awalnya selintas aku berpikir,

‘what the…’

lalu selanjutnya,

‘adakah standar untuk menjadi seorang mahasiswa sejati?’

‘lantas bisakah seseorang sukses jika ia menjadi mahasiswa standar itu?’

‘bisakah ia bahagia?’

‘Bukankah setiap orang berbeda, punya standar berbeda, apalagi tentang kebahagiaan?’

‘lalu apa aku bukan mahasiswa sejati kalau aku tak seperti standar?’

aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran-pikiran itu. Mulai sadar pikiranku menakutkan. Takut karena aku tak percaya standar yang sama untuk semua orang. Karena setiap orang berbeda. Ingat konsep tentang essentialism yang kupercaya? Bahwa dua orang tidak mungkin sama. People are different from each other. The way they feel things. They see things differently.

Lalu ketika aku berpikir tentang mengatasi kemiskinan. Terus terang, aku tak percaya kemiskinan bisa dientaskan. Karena kapitalisme masih ada. Dan akan terus ada. Karena tidak semua orang bisa mencapai standar ‘tidak miskin’. Karena tidak semua orang menganggapnya masalah, atau bahkan masalah yang harus diselesaikan, bisa diselesaikan. I’m being so ironic. I knew too much to be positive. And I knew less to know how to start to fix things. It’s depressing inside, because I know there are problems out there yet not knowing where to start to change things. or how…

I’m being so postmo…

and it scares the hell out of me

I have standard for my life. And for things around me. I want it all to be a peaceful, happy ending of everything. Unfortunately, it’s excruciating, not all of those things have the same standard as mine.

It’s depressing realizing people have different thoughts even in trying to fix things.

I’m being happy and fully charged today, even with this little cold and flu.

But I thing I just want to write a darker piece today.

You can blame me for this.

Advertisements

Aja-Aja Fighting!

Hmm,

aku ingin memberi semangat pada diriku.

aku tak mendengar hatiku meneriakkan kata-kata itu akhir-akhir ini.

Aku punya target yang luar biasa banyak akhir tahun ini. Stres menumpuk.

Aku lelah.

capek.

aku hanya tak pernah punya kesempatan untuk mengatakan itu.

aku tak punya banyak waktu hingga akhir tahun ini.

Skripsi,

kuliah,

konferensi internasional,

target meneruskan S2,

aku tak punya waktu untuk mengeluh.

Aku tidak ingin mengeluh, jangan salah.

Aku cuma ingin jujur mengatakan bahwa aku sangat lelah. Dengan semua stres, waktu yang sempit.

Secara mengejutkan, aku sudah lama tak mengatakan ‘semangat’ pada diriku! Mana mungkin. Aku seperti bukan diriku yang kukenal. Tidak sedang berada di masa terendahku, aku tahu. Tapi kini aku sulit tersenyum bahkan ketika ada orang yang menepuk pundakku dan mengatakan, “Semangat Na!”

‘Tegar!”

“Semangat”

Dengan hangat Ayah, Mama, teman-teman, Mba Mida, Husnul, Rousta, Onni Zaza, Icha dan teman-teman lain yang tak bisa kusebut namanya, akan mengatakan itu padaku.

Ayah menceritakan masa tersulit dalam hidup beliau dan itu membuatku menitikkan air mata. Ayah dan Mama mungkin adalah orang terkuat yang pernah kutemui.

Aku tahu mereka benar. Aku harus bersemangat dan bisa melakukan hal-hal yang kutargetkan. Tapi aneh, aku tak bisa tersenyum mendengar kata-kata ‘semangat’ yang hangat itu. Aku sadar hanya aku yang bisa melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah-masalah ini dengan izin Allah, Insya Allah. Aku butuh waktu untuk bisa tersenyum mendengar kata-kata itu. Butuh waktu untuk bisa mengatakan kata itu pada diriku sendiri. Tapi hingga aku sudah siap untuk itu, aku tetap harus menyelesaikan masalah-masalah ini satu persatu. Aku tak punya waktu untuk siap.

Ini bukan berarti aku tidak bahagia.

sama sekali bukan.

Aku meragukan langkah-langkah yang kuambil tentu saja. Benarkah ini, salahkah ini?

tapi,

tapi…

lihatlah, aku bahkan tak bisa memikirkan satu alasan bagus untuk membela argumenku tentang aku yang bahagia.

aku tak tahu ke mana jalan ini menuju

tapi aku ingin,

meskipun hatiku belum bisa,

bibirku memberi ucapan semangat untuk diriku sendiri.

Nana,

Aja aja Fighting!!!!!