Tetaplah Hidup!

Hari ini, tidak seperti biasanya, aku memilih untuk naik kereta ekonomi menuju sebuah kantor perusahaan minyak di Rasuna Said. Biasanya aku tidak pernah suka dan sangat enggan naik kereta ‘sesak napas’ yang sangat minim kualitas safety-nya itu. Semuanya lancar, Alhamdulillah. Aku sampai di kantor itu, had a fun conversation with someone, lantas berbalik pulang ke Depok. Kali ini aku akan naik kereta AC saja, kupikir. Tapi akhirnya aku terpaksa naik kereta ekonomi lagi karena kereta AC yang menuju Depok baru datang satu jam lagi. Yeah, right! Dan aku harus menunggu? Thanks. But, no thanks! Aku tidak suka menunggu, dan aku ada janji dengan teman-teman kuliahku untuk mengerjakan sebuah tugas penelitian, makanya aku memaksakan diri juga.

Aku tengah mengetik sms ketika aku mendengar orang-orang berteriak. Bukan di dalam kereta. Suara itu dari luar sana, dari peron stasiun. Aku menoleh ke arah suara-suara itu, membaca situasi dan memastikan itu adalah stasiun Pasar Minggu. Semua orang menoleh ke arah teriakan-teriakan itu, tapi tak seorangpun dapat memastikan. Lalu seorang gadis naik ke keretaku, menutup mulut dengan tangannya dan kelihatan berkaca-kaca. Ah, atau mungkin habis mual? Entahlah. Dan semua orang mencecar gadis itu dengan pertanyaan-pertanyaan. Apa yang terjadi? Kenapa? Let me paraphrase what she said, friends.

Seseorang melompat dari kereta yang berhenti di peron seberang. Ia melompat ke arah rel keretaku. Menyangka semua akan baik-baik saja karena mungkin ia telah terbiasa melakukannya. Menyangka bahwa tidak ada kereta yang akan lewat. Bahwa rel itu kosong, detik itu. Bahkan aku sempat berpikir, orang itu mungkin tengah bercanda dengan seorang temannya. Tertawa, menebarkan kebahagiaan yang terakhir. Dan menerima tantangan sang teman untuk melompat dari keretanya. Atau mungkin ia tak pernah menyangka, ia akan mati hari itu. Melompat ke arah rel agar ia bisa bertemu dengan pasangannya, anak-anak dan orang-orang yang menyayanginya. Yang menunggunya di rumah dan berbahagia untuknya. Tapi mereka akan tetap menunggu. Atau mungkin juga…

Apapun yang terjadi…

Ingat kisah Sassie? Seorang gadis SMA yang meninggal dunia di usia muda karena kanker? Bahkan di saat-saat terakhirnya, ketika ia menjalani proses pengobatan yang luar biasa menyaktikan, ia tetap optimis. Ia tetap ingin hidup.

Makanya, aku tak habis pikir mengapa seseorang ingin mengakhiri hidupnya.

Sama sekali tak habis pikir.

Bodoh!

Memangnya apa artinya hidupmu?

Apa setidak berarti itu?

Apa kau mau mati begitu saja?

Jangan menghilang!

Makhluk kecil,

karena kalau kau pergi

kau akan hilang,

lalu dilupakan.

Lalu apa?

Bodoh!

Aku bilang jangan pergi!

Bukankah Tuhan memberimu kesempatan untuk hidup?

bukankah Ia memberimu ruang untuk merasa, menikmati, memberi?

Kalau aku…

Pasti

Aku tidak akan menyerah!

Hidupku sangat berharga!

Aku akan memberi sesuatu dulu untuk diriku, orangtua, keluarga, agama, dan bangsa sebelum aku pergi

Karena ada Tuhan

Karena ada orang-orang yang mencintaiku

makanya aku tidak akan menyerah.

Hari ini, aku tidak berpenyakit kanker, atau berada di tengah bahaya (but who knows?), hidupku sangat biasa, dan tentu, seperti yang akan kau bilang, aku bisa dengan gampang mengatakan aku ingin hidup karena aku tak mengalami masalah besar yang extremely painful. Tapi aku merasa sangat luar biasa. Dan aku bisa merasa begitu luar biasa, karena aku hidup.

Makanya

makhluk kecil,

Tetaplah hidup!

Advertisements

I Hope I can Meet You Again in The Next Life!

sv104628

Ini bukan tulisan baru. Karena aku ingin menyikapi blog ini dengan serius, makanya aku upload tulisan ini lagi.

Buyeo Lotus Festival, July 18, 2009, Buyeo, Korea. A piece of memory…

Perhaps she is the best Korean Language teacher I have ever had. She taught me everything about giving not receiving. And she was definitely the one who made me cry loudest when I was about to leave Korea in 2007. And she is one of those few people who believe that I am going to reach my dream to make movie. That i will be a movie director. Those few people who are even more confident about this than my self. She is Yang Min Ae Sonsengnim.

I had no chance to go to Buyeo Lotus Festival last year because I needed to go to Cheongju to do my internship. Sonsengnim called me in Daejeon University International office and asked me to go to her house because she would ride me to the first day of this Buyeo Festival. She said I was very lucky to get chance to go there. Well, I was lucky because I got chance to go there with her.

With Tum, Dina, and Poi, she took me to Buyeo. There arent many people still in the festival because it was the first day, even the opening ceremony would be held in the evening. But I can guarantee that it was the most wonderful Lotus Festival ever for me because of Yang Min Ae Sonsengnim.

When we came back to Daejeon (it takes around 1,5 hours from Buyeo, the center of rice plantation in Korea), Sonsengnim sent Tum, Dina, and Poi to the subway station and asked me to spend the night in her house. I said yes.

In her house, she showed me the pictures of the 2008 ASEAN fellows. When I saw those pictures there was an envious feeling in my heart because these people were spending time with Sonsengnim. They have Sonsengnim in times that we, ASEAN 2007 fellows could not have. But I was smiling finally because I realize that 2008 could never have the 2007’s times with Yang Min Ae Sonsengnim. Ever!

I slept quite early after talking for a while with Sonsengnim and drinking grape juice she gave me. Since around 7 o clock in the morning, I heard someone was cooking in the kitchen. I did not know who. I woke up at around 8.30 and saw Sonsengnim exercising, she smiled at me and told me to wash my face and have breakfast.

She made Dwenjang Jjigae, the Korean soybean soup with friend floured fish, cucumber, kim, kimchi, and lots of other foods. We talked about lots of things before we reached this conversation. She told me that she is teaching two very smart Indonesian students in her Korean class. She has been wondering she said how Indonesian students can be that clever, last batch and this batch as well. She confidently said that Indonesia has a great future. Indonesia will be an advance country. I was smiling. Because I know that the truth is not that easy. I told her that there are lots of capable Indonesians choose to work in foreign countries than in Indonesia. She said It’s the same with in Korea, but the government really pushes the to come back to their countries. Ah I wish my government could do the same thing.

I gave her a present I had prepared and I was very happy when she said that she loved it. Then she took me to Yuseong bus terminal. In the car, she was wondering when she could see me again. She said it is destiny that we met again that day. She said, “I hope I can meet you again in the next life”. I don’t believe in reincarnation. But I was touched and cried because of her words. I always be a burden to everyone around me, alias nyusahin orang hehehe. Yet, I don’t know why they can give so much love.

Sonsengnim gave me her last present wrapped in blue before I got into the bus. For a minute I saw her face before the bus door closed. I hardly can see her face when the bus moving. In my seat of 04, I prayed to God that I will have other chances to meet Yang Min Ae Sonsengnim…

Read the Atmospher, Now! Because I’m Having A Big and Good Smile!

Bandara Internasional Sukarno-Hatta penuh sesak. Aku tidak ingat bagaimana atmosfer bandara itu, Maret, 2007 lalu. Panaskah? Hujankah? Sedikit hal yang kuingat. Karena memang begitulah aku. Mengingat sedikit hal dan melupakan banyak sisanya. Bukan karena aku ingin, jangan salah. Tapi karena otak alamiah manusia yang mudah melepaskan banyak hal, hanya menyimpan sedemikian kecil momen dalam ingatan. Tapi yang cukup banyak hal yang kuingat hari itu.

Mba Mida, seorang teman, ada di situ, Ipung, teman masa kecilku juga. Lalu, Ci’, suaminya, dan keponakan-keponakanku, Taris dan Resan. Dengan sebuah kopor hitam besar yang akan menjadi saksi bisu perjalananku ke Negeri Ginseng, dan ransel hitam legam pula, aku ingat betapa mendidihnya darahku karena gairah. Gairah untuk memulai petualangan baru, menjalani hidup yang luar biasa.

Lantas ada sosok keduanya. Mungil, hangat, indah, dan familiar. Yang membuatku nyaman berada di dekatnya. Yang, untuk pertama kali dan satu-satunya, membuatku tidak bisa berkata apa-apa karena aku tak tahu harus mulai dari mana. Dari ketika aku dilahirkankah? Atau dari pesta ulang tahunku yang ketigakah? Atau dari hari itu? Di Bandara Internasional Sukarno-Hatta yang penuh sesak?

Aku sudah melewati pintu kaca sekuriti, di mana setiap orang yang hendak check-in tidak boleh lagi bersama para pengantarnya. Aku menunjukkan passport-ku pada seorang petugas yang sama sekali tak kuingat wajahnya, apalagi namanya. Aku melewati pintu kaca itu, dan menoleh. Menatap sosok keduanya yang besinar.

Dan aku bergumam,

‘Aku telah melihat malaikat…’

Keduanya berpegangan tangan, menatapku dengan hangat. Bibir keduanya berkelumit doa-doa lirih untukku. Mata yang hangat itu berkaca-kaca. Dan aku merasakan hangat di pipiku. Karena kristal-kristal murni mengalir di sana. Aku menatap keduanya. Terharu, aku akan bilang! Lalu aku tersenyum, mengangguk dengan mantap. Karena aku akan baik-baik saja. Karena doa-doa itu. Dan tanpa sadar, keduanya telah melakukan itu seumur hidupku.

Doa-doa paling murni dan indah.

img_2449

No wonder I am this big now. Who I am today, is because they were there for me.

Ayah, Mama, terima kasih.

Aku tahu kata-kata itu tidak cukup menggambarkan rasa syukurku, atau membalas apa yang telah keduanya lakukan untukku. Tapi aku tetap ingin mengatakannya.

Bicara tentang ucapan terima kasih, aku menulis surat cukup panjang untuk Ayah dan Mama tahun 2008 lalu. Isinya adalah ungkapan terima kasihku pada keduanya karena telah menjadi inspirasi, telah berkorban, telah bersabar, telah menjadi orangtuaku. Untuk pertama kalinya, aku mengungkapkan perasaanku tentang keduanya. Ayah menelponku hari itu, aku sangat ingat. Dan mengucapkan terima kasih…

Dan kau tidak tahu bagaimana rasanya mendengar kata itu keluar dari mulut Ayah. Kau tidak akan pernah tahu…

Read the atmospher now! Because I’m having a big and good smile!