… Kasih, Kita, Telah Saling Menemukan

Mas Sayang merangkulku, mendekapku dalam pelukan hangatnya sembari jemarinya menghapus air mata yang mengembun dan pecah di pelupuk mataku malam itu, tepat seminggu setelah Mitsaqan Ghaliza atau Perjanjian yang Kuat pernikahan diikrarkannya ketika menikahiku. Betul, seminggu. Di mana pagi esok harinya aku harus berpisah dengan beliau yang mesti kembali ke Tual, Maluku Tenggara, ke lokasi kantor cabang sebuah BUMN di mana suamiku itu menunaikan amanah kerjanya. Kata-kata lembutnya masih terngiang di benakku malam itu, yang dikatakannya sambil menatap mataku yang sembab lekat-lekat dan senyum tipis tergaris di bibirnya, “I love you, Na…”. Aku menyambutnya dengan menenggelamkan mukaku ke dadanya, memeluknya erat, dan terisak.SAM_3659

 

Atas kuasa Allah SWT aku dan Mas Sayang bertemu dan berkumpul. Atas kuasa-Nyalah pula kami berpisah. Lalu bertemu lagi. Dan seterusnya. Atas kuasa-Nya pula aku, dalam hidupku yang sekali ini, dapat merasakan cinta, mencintai dan dicintai. Atas kuasa-Nya aku dipertemukan dengan jodohku sekarang, di dunia, in syaa Allah, Aamiin Allahumma Aamiin. Dan Dia-lah yang lebih tahu alasan aku dan Mas Sayang saat ini masih harus terpisah jarak karena pekerjaan.

Antara aku dan Mas Sayang, semuanya dimulai lewat Line (macam AADC aja). Eh, tapi betul. Sebetulnya kami sudah saling mengenal dari SMP, ketika kami pernah satu kelas di kelas 1 dan kelas 3 SMP, dan, kami juga satu SMA meskipun saat SMA kami belum pernah satu kelas. Dan kami tidak pernah bertemu lagi sejak itu hingga September tahun 2015. And literally, we met through Line. Yes, that Line, as in which Brown meets Cony. Awalnya aku diundang menjadi member untuk Line Alumni SMAku oleh seorang teman. Aku bahkan lupa siapa yang mengundangku itu. Aku ingat pernah melihat siapa saja anggota Line Alumni SMA dan aku ingat namanya juga terdaftar sebagai salah seorang anggota di kelompok Alumni SMA-ku itu. Johan Aria Lesmana. Aku mengabaikan nama itu awalnya. Hingga siang itu. Hari Minggu itu. Di suatu September. Ketika ia mem-post ajakan untuk menyalurkan zakat ke suatu lembaga zakat. Saat itu juga, menyangka ia adalah seorang amil zakat, aku men-japri-nya lewat message via Line. Japri pendek itu berujung pada ia yang menelponku dan mengobrol panjang lebar hingga 3 jam. Well, honestly, agak capek sih dengernya setelah 2 jam, hihihi, sorry Mas Sayang. Dan itu adalah awal tahap pengenalan antara kami berdua.

Di suatu siang di November, di salah satu pembicaraan random kami, Hanhan (panggilan sayangku untuk dia) mengajakku menikah, lewat BBM. Duch, ini kelihatan banget ngga serius deh. Aku hanya menanggapinya dengan, ‘Kamu serius? Becanda kali”. Dan ia hanya mengetik, ‘Ngapain aku becanda.’ Esok harinya kami mengobrol seperti biasa lewat telpon, berbicara tentang hal-hal sehari-hari. Esok harinya lagi, ia kembali menuliskan pesan singkat itu:

“Mau nikah sama aku?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku mengkonsultasikan itu dengan ayahku. Dan ayah menganjurkanku untuk sholat Istiharah, melibatkan Ia yang menuliskan takdir. And I did. Ketika keyakinan di hati makin menguat, aku berencana untuk memberikan jawaban minggu depan. Tapi belum aku menyampaikan keyakinanku untuk menerima calon suamiku itu, Hanhan kembali menanyakan jawabanku lewat pesan singkat. Aku mengirimkan gambar yang menyuratkan kata ‘Yes’ di situ. Dua minggu kemudian, kedua orangtuanya datang ke rumahku untuk berkenalan dengan orangtuaku. Minggu depannya, kedua orangtuanya beserta keluarganya datang ke rumahku kembali, dan secara resmi melamarku.

Dari November hingga Februari, dalam 3 bulan saja, persiapan pernikahan dilakukan. Ada yang mempertanyakan mengapa proses hingga ke pernikahan begitu cepat, dari keluarganya maupun dari keluargaku. Namun menurutku dan Hanhan, tidak ada untungnya dalam hal menunda pernikahan. Maka dengan basmalah, kami menjalankannya. Dan Alhamdulillah persiapan maupun hari H pernikahan berjalan dengan lancar, meskipun tanpa ujian.

Bila Allah SWT menghendaki perpisahan bagi dua orang, tidak ada yang bisa menyatukan mereka. Pun bila Allah SWT mengendaki penyatuan bagi dua orang, tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Dan di saat aku dan Hanhan sama-sama mencari pasangan hidup dan pasangan surga kami, Allah SWT telah mempertemukan kami.

Marriage, at first place, is never only full of blooms and butterflies. It is also a platform of tests, sharing, making, improving, learning and never stop.

Mengikuti kata hati dan kokoh untuk tidak ‘terbujuk’ dengan ‘apa kata orang’ adalah yang penting. Tapi tentu hati yang meminta dan melibatkan Allah SWT. Karena kita yang menjalani pernikahan. Kita yang akan membangun rumah tangga dan melalui biduk kehidupan dengan suami atau istri kita, bukan orang lain. Maka bedakan mana si pengambil keputusan utama dan mana yang ‘hanya’ memberi pendapat atau saran. Wallahua’lam.

Peace with Soul

Singapore, November 1, 2014

Rain changes everything. The mind and the soul. On the way to Changi airport in a van in the rainy Singapore morning to send back one of our group members home. The rain was solitude.

And I realize that it has been a while since I get the chance to reflect. And being abroad in a foreign unknown land is a great time to reflect because everything you thought as trouble, everything you thought you had never had the chance to think about is far away back home.

And a soft stream of warm and comfortable feeling overwhelms me. The feeling of being able to be there seeing the rain is something to be grateful for. Alhamdulillah.

And it is fine if no one really see the world the way I see the world; if no one feel the same way the way I feel about things. It’s alright. I am tired of hoping that anyone would really see the world the way I see the world. That is not a desparation statement, really. It is an acceptance, that I have come to a peace with my soul to accept that I am the only one in the world to feel things this way. Almost to a point of bursting my eyes to tears that I feel joy and happiness in my soul for realizing this acceptance. People don’t understand and they never will. And that’s okay.

The van is still running.
Going back to the centre of Singapore.
Going back to Vivo.

Got promoted…
Will be going to Bangkok soon…
Want to go back home
Wish to talk to someone I’ve known for a long time but just met again after a very very long time…
Ya Allah ya Rabb, tunjukillah hamba jalan keluar….
………………

A Light of One Night

Perjalanan ke Jakarta semalam istimewa. Di perjalanan Surabaya-Jakarta dengan kereta Argo Bromo Anggrek tadi malam, saya bertemu seseorang yang spesial. Saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikan pertemuan tiba-tiba itu. Diawali dengan pertanyaan biasa tentang nomor tempat duduknya. Seseorang yang awalnya tak kuperhatikan warna pakaian yang dikenakannya.

“5C?” Saya menoleh ke arahnya. Saya tidak kenal wajah itu.
“Saya 5D”, tukas saya. Namun wajahnya bergeming, tetap menyirat tanya, seolah heran mengapa saya duduk di situ, maka saya kembali berujar “Ini kereta 2 kan?” diiringi dengan tatapan ‘…then this is my seat, man’ darisaya. Orang ini mengangguk lalu meletakkan tas ransel hitamnya yang besar di lantai gerbong dan duduk di samping saya sambil bergumam sendiri. Sosoknya sedikit tinggi, berperawakan kurus, berkulit langsat. He looks good.

Tidak lama kemudian ia mengajak saya mengobrol, menanyakan beragam hal dari asal saya, mengapa saya ke Jakarta, latar blakang pendidikan saya, pekerjaan saya, dsb. Saya bukan orang yang mudah membuka diri kepada seseorang. Dan di awal-awal percakapan kami saya masih siap dengan kemungkinan bahwa lelaki ini sudah gila. Namun orang ini seolah meruntuhkan segala tembok pertahanan psikologis saya dan dengan pembawaannya yang ringan dan terbuka, saya dengan senang hati menjawab semua pertanyaannya.

Dalam sekejap saya bisa merasakan betapa terbukanya pria ini tentang pemikirannya. Cerita-cerita tentang dirinya, kegilaannya terhadap mesjid-mesjid peninggalan Tionghoa yang ia telusuri satu per satu di Pulau Jawa ini, ketertarikan terhadap antropologi, latar belakang pendidikan, usia, kampung halaman, hingga pekerjaannya, hingga kota masa depan yang ia inginkan tinggal di dalamnya untuk berkarir. Obrolan-obrolan tentang politik juga mengalir begitu saja. Dia yang me-lead tema pembicaraan kami, tapi saya sama sekali tidak keberatan. Biasanya sayalah yang me-lead pembicaraan dan akan merasa terganggu jika ada orang lain yang berusaha me-lead tema pembicaraan dengan saya. Semua yang dibicarakannya menarik bagi saya.

He’s super smart, I can tell. Berlogat medok jawa, dan menggebu-gebu ketika bercerita. A very genuine person dari caranya yang dengan terbuka mengungkapkan pikirannya bahkan tentang hal-hal kecil. Biasanya orang-orang semacam ini bisa menjadi obnoxious dan terkesan sedikit ‘menjijikkan’ jika dalam kadar berlebihan. Namun saya sama sekali tidak merasakan itu ketika dia berbicara atau bersikap.

Berbeda dengan orang-orang ‘nyablak’ dan ‘super smart‘ kebanyakan, he’s very very attentive and caring. Maksudnya? Begini. Salah satu contoh kecil adalah dia diam dan mendengarkan dengan saksama ketika saya tengah bicara. Smart (and arrogant) people don’t do that. Contoh lainnya, dia duduk di sisi aisle kereta sedangkan saya duduk di dekat jendela. Ketika saya hendak ke toilet, saya tidak sengaja membangunkan dia karena kaki saya menyenggol kakinya. Dia dengan sigap memberikan jalan untuk saya keluar dan masuk ke tempat duduk saya. Most people will do this, yes, but lazily.

Ada banyak kemiripan antara saya dengan dia. Kegilaan terhadap sejarah, lama waktu bekerja di kantor kami yang sekarang, hingga keinginan untuk tinggal di kota kecil suatu saat nanti. Bahkan kami naik kereta yang sama dari Jakarta ke Surabaya seminggu sebelumnya dan sama-sama memiliki pengalaman baru saja mengunjungi kedai Ice Cream yang terkenal di Surabaya Zangrandi. He’s a stanger, but a good travel companion.

Saya sendiri merasa agak tidak terbuka terhadapnya. Karena semalam adalah pertemuan pertama kami dan saya tidak mengenal orang ini. Saya tetap tidak mampu meluluhkan tembok-tembok pertahanan psikologis saya.

Nama pria ini Jacob. Well, dia memperkenalkan namanya demikian pada saya meskipun orang-orang kantornya lebih suka memanggilnya Ivan. Dia berbaik hati menunjukkan halaman Path-nya kepada saya juga beberapa foto mesjid peninggalan Tionghoa serta gapura kuno kepada saya. Tapi saya tidak ingat betul siapa nama panjangnya. Dan ia sedikit reluctant untuk menceritakan tentang identitas etnisnya dan lebih suka dibilang orang Indonesia.

Jacob adalah salah seorang travel companion yang ingin saya temui lagi dalam hidup saya. Di perjalanan Jkt-Sby atau Sby-Jkt berikutnya, atau perjalanan-perjalanan lainnya. Kami bahkan sempat mengobrol soal X-Men, Captain America dan Amazing Spiderman 2. Dia juga sempat berkata bahwa dia masih akan lari pagi di car free day pagi tadi.

Dia ini memang ajaib. Di usianya yang masih muda orang ini bisa membuat individu tertutup dan sensitif seperti saya merasa nyaman. Di kesempatan berikutnya, jika, namanya juga perandaian, jika saya bertemu dengannya lagi, saya akan lebih terbuka, membangun jembatan daripada tembok psikologis.

“How in a light of one night did we come so far?”

Kembali ke Dulu (7)

Aku merasa terbuai atau mungkin juga larut secara dalam dan melibatkan perasaan ke dalam kenangan-kenangan yang pernah singgah di hidupku yang sudah 26 tahun ini. Aku ingin punya kehidupan baru, Ren. Melepas dan melupakan semua permasalahan dan kerumitan hidup. Beserta ingatan mengenai orang-orang yang pernah kutemui dalam kehidupan yang tergurat oleh realitas yang tak seindah impian surga. Tidak ada yang sempurna. Dan entah sudah kali berapa mantera itu ditiupkan ke dalam otak idealis macam punyaku ini. Aku tahu. Hanya saja secara sadar ataupun tidak, mantera itu tidak pernah dapat sepenuhnya kuterima atau mungkin kumengerti. Jika realitas tidak ada yang sempurna… sungguh tidak adakah yang sempurna? Mengapa?

Kau mungkin akan menamparku karena pertanyaan yang sama sekali bukan retoris itu. Menyuruh untuk bangun dan berhenti jadi gila. Tapi bahkan keberadaanmu saja telah menjadi satu mimpiku yang mustahil terjadi. Ren, di kehidupan ini, cukupkah kiranya untuk kuakhiri di sini saja? Karena ceritaku laiknya kisah tak berujung yang titik selesainya tidak mampu kubayangkan. Aku tahu tiap-tiap kelokannya adalah realitas yang harus dijalani dan diterima. Namun mengapa tetap saja diriku tak mampu membuka hati terhadap hal-hal yang memang tidak sempurna itu? Ren, kalau kamu ada di sini, apa yang akan kau katakan?

Lie to One Self

Times when I feel like I’m losing myself happen often these days. Ah no, this past a year. I feel like times are fooling me around, by suddenly disappearing without saying goodbyes. And I remember those days when I was in love, deeply in love with someone back then when I was seventeen, and suddenly miss that feeling of deeply emotionally involved with someone I never really know.

Why is it that those girls are desparately chasing guys not really worth their loves? Perhaps, not because they really like the guys. Perhaps it’s because they dream of an idea of deeply in love with someone and they simply want to experience it; or pretend to experience it.

And why is it that I feel so empty inside? Is it because I currently am not in love with anyone, or is it because I can’t pretend to be in love with someone?

Fear

If in any words I could ever convey
the feeling owning the darkest place in the bottom of every uncertainty, every unfulfilled dreams, hopes, expectation. Where we know for sure that the day will come, certainly will, that of the end, finish time, when all matters are matterless. The lost of our most beloved, the lost of our time, the lost of tomorrow.

That only fear comes along. To know that we are always alone, one soul. And will come the day when our long lasting waiting is over. And nothing ever will return. Only us return. To the place we’re destined to be. That one place. And what else matter than points of our good deeds. Than Allah’s forgiveness in that matterless time?