Badai

Karena menulis bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, bukan juga hal yang bisa ditekan, ketika keinginan untuk menulis terlalu kuat, seperti sekarang ini, I ended up, menunda sarapan dan aktivitas lain, writing. Menulis adalah bagian akhir dari babak cerita fiktif dalam sastra, dataran landai yang menurun setelah puncak gunung, gerimis setelah badai. Keinginan kuat untuk menulis, setidaknya untukku, selalu datang ketika cerita hampir berakhir. Karena di situlah saat ketenangan sudah melindungi hati yang bergolak dan saat kisah hampir melengkapi pikiran. Saat yang mengizinkan aku untuk duduk dan berpikir.

Setiap orang melalui badainya masing-masing ketika waktunya tiba. Badaiku, selama beberapa minggu yang lalu, bernama kebodohan. Kukatakan dengan jujur ya, kawan, dan kau lihat dari tulisan-tulisanku sebelumnya, masih bulan lalu, aku sudah merasa puas dengan segala hal yang diberikan Tuhan padaku. Aku merasa aku yang sekarang sudah cukup baik. Merasa bahwa kisahku sudah selesai, dan merasa aku tidak punya penyesalan. Aku belajar menerima kenyataan bahwa manusia tidak mungkin tahu semua hal, makanya, makanya tanpa kusadari,

aku,

sedikit demi sedikit, berhenti belajar.

Aku akan membela diri. Ini bukan karena arogansi, merasa bahwa aku telah tahu banyak hal. Tapi karena aku merasa sudah tidak punya keinginan untuk mengenal hal-hal baru. Dan itu membuatku tidak tahu.

Ketidaktahuan berujung pada kebodohan.

Kupikir apa yang kuketahui tentang menulis skripsi selama ini sudah cukup untuk menulis tesis master. I was wrong. Kebiasaan mengerjakan segala sesuatu sendiri, kebiasaan untuk tidak bertanya pada orang lain, kebiasaan untuk memikirkan semuanya sendiri, membuatku tidak tahu. And above all those, kenapa selama ini aku tidak menyadari bahwa aku salah? Aku tidak tahu bahwa aku tidak tahu. Apalagi kata yang bisa mendeskripsikan hal itu selain ‘kebodohan’?

Aku terbatas.

Pengetahuanku terbatas.

Itu bodoh.

Dan yang lebih mengecewakan adalah kenyataan bahwa diriku bahkan tidak punya keinginan untuk menembus batas itu.

And I call my self ‘a scholar’?

Curiosity is an instinct a scholar should have. 

I lost it. 

And I was wrong. 

The world is unforgiving. Tidak ada toleransi untuk ketidaktahuan. Kau ada di sini, kau memilih untuk melakukan sesuatu, kau harus tahu bagaimana melakukannya. Kalau kau tidak tahu, cari tahu cara agar kau bisa tahu. Saat-saat di mana aku ingin berhenti dan melarikan diri, aku masih ingat. Saat-saat aku tidak punya motivasi untuk menyelesaikan apa yang kumulai. Dan sungguh hanya Allah yang memberiku kekuatan untuk tetap ada di situ dan bertahan. Well, saat aku ada di situ, aku merasa aku tidak akan bisa bertahan. Betapa lemah dan kecilnya kita, ya. I was so vulnerable that I could break.

All the hardships and pressures I felt my heart could not contain, now I see them as a blessing.

Cara Allah melindungi aku dari kebodohan.

“Jangan berhenti belajar” adalah kata yang jauh lebih sulit untuk dilakukan daripada kedengarannya. Dan terkadang perlu pengalaman traumatic untuk mendorong orang bodoh sepertiku untuk belajar lebih banyak lagi, mengambil keputusan untuk maju meski hanya selangkah saja. Dan apa artinya menjadi ‘a scholar‘ aku kembali memikirkannya. Kali ini, memikirkannya baik-baik.

3 Responses to “Badai”


  1. 1 arfan January 6, 2012 at 3:49 am

    yup jangan berhenti belajar ya :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.