No More Once Every Blue Moon

Masa lalu selalu membuatku jatuh cinta.

Memori indah yang kumiliki tergambar lebih indah daripada saat aku tengah melaluinya. Aku aneh. Dan aku selalu tahu itu.

Tapi ada saat-saat yang ingin aku lupakan.

Biasanya, aku tidak ingin melupakan hal-hal yang kualami, makanya aku rajin menulis di personal journal-ku. Untuk memastikan aku tidak melupakan saat-saat yang baru saja kualami.

Tapi ada ya, saat-saat yang ingin kita lupakan. Saat-saat yang tidak pernah kita harapkan untuk kita lalui dan tidak ingin lagi kita tengok di masa lalu.

Ada saat yang begitu menyakitkan hingga membuat kita patah harapan dan merasa rapuh. Saat-saat yang membuat kita sakit sebelum kita tidur begitu juga ketika kita baru saja bangun dari tidur.

Dan tiada hari tanpa meneteskan air mata.

Rupanya saat-saat seperti itu datang juga, ya.

Pertama kali aku merasakan hal seperti itu.

Well, aku pernah merasa patah harapan yang menyakitkan sebelumnya sekali. Tapi yang itu datang secara tiba-tiba ketika stresku mencapai puncaknya. Itu, kurasa, saat aku tengah mengerjakan skripsiku.

Tapi hal menyakitkan yang baru saja kulalui beberapa hari yang lalu, itu baru pertama kali.

Tapi segala puji bagi Allah, Tuhanku.

Sungguhpun sakitnya hari-hari itu, aku bisa bercerita banyak pada Tuhan. Dan aku melakukan apapun dengan sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba saja, aku ingin berbuat baik pada semua orang. Tidak ingin aku menyakiti orang lain. Dan Ayah, Mama, sahabat, teman-teman dekatku, demi Tuhan, adakah yang lebih baik dari kalian? Kenapa begitu baik padaku? Kenapa lagi-lagi membuatku terharu sampai meneteskan air mata?

Kali ini, aku memutuskan untuk percaya pada kata-kata Ayah. That every thing is going to be alright. Aku selalu percaya kata-kata Ayah.

Kembalikan 6 tahunku!

Kembalikan semua kata-kata semangat dariku!

Aku ingin sekali mengatakan itu.

Tapi akhirnya aku tak mampu mengatakan apa-apa.

Aku sudah tidak punya keinginan untuk menanyakan, meyakinkan, atau mengatakan apa-apa.

Dan dunia sungguh tidak lagi sama di mataku, kini.

Aku takut menghadapi apa yang ada di depan jalan yang tidak kelihatan ini.

But I’m excited.

Because I know where it will end. 

1 Response to “No More Once Every Blue Moon”


  1. 1 elaine October 13, 2011 at 3:55 pm

    wow….cerita yg penuh dgn brbagai emosi ^^ bagui!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.