Sudah berapa lama ya,
sejak terakhir kali aku mengatakan sesuatu padamu?
Tentu saja, aku ingat.
Untuk hal itu, aku ingat.
Dan dorongan untuk menulis, sekarang begitu kuat, sehingga aku tidak sanggup menunggu hingga esok pagi. Berapa lama sudah aku kehilangan pagi?
Dan tiba-tiba saja, aku ingin bicara denganmu. Ada banyak hal yang ingin sekali kukatakan.
Yura.
Aku mengambil kelas Hukum Internasional semester ini. Lebih menarik dari yang kubayangkan setelah aku mulai membaca bukunya. Kenapa dulu sama sekali tak terpikir di kepalaku untuk mengambil jurusan hukum ya?
Lalu,
lalu ya, setelah menyelesaikan tesisku dan lulus, ada hal-hal yang ingin kupelajari lebih jauh. Tentang humanitarian aid, NGOs, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aah, kenapa ilmuku begitu dangkal? Kenapa aku tak membaca lebih banyak buku? Tak belajar lebih banyak lagi?
Aku belajar bahasa Korea lebih jauh lagi, Yura.
kali ini sendiri. Aku tidak mengambil kelas bahasa semester ini.
Saat ini ya, jarang sekali bisa menemukan orang yang akan duduk diam, hanya diam dan mendengarkan aku bicara tentang apa yang ingin kulakukan. Dan sejak kapan ya, perubahan-perubahan yang terjadi dalam pikiranku terasa seperti ombak yang pasang lalu surut. Tidak bisa diprediksi.
Aku yang berusia 17 tahun itu, tidak sama lagi dengan aku yang sekarang.
Aku benar-benar berubah ya.
Bahkan akupun tidak bisa menebak lagi ke mana pikiranku akan membawaku. Di saat-saat seperti ini, ketika pikiranku meledak-ledak karena menemukan hal baru untuk melakukan revolusi, aku ingin bicara denganmu. Keegoisan yang sudah kuterima sebagai kebiasaan. Masih maukah kau mendengarkan aku kapanpun aku mau bicara?
Impossible, ne.

0 Responses to “Revolusi Pikiran”