Musim Dingin Januari

Januari 2011: Musim dingin pertamaku di bulan Januari.

 

Berada di Daejeon tahun 2007 adalah musim dingin pertamaku. Tapi tidak pernah sebelumnya aku merasakan musim dingin di bulan Januari dengan begitu banyak salju.

Seoul: sedikit berbeda dengan Daejeon. Udara musim dingin lebih dingin. Salju turun lebih awal dan lebih sering. Karena Seoul terletak di bagian lebih utara di Semenanjung Korea dibandingkan Daejeon.

Winter is surreal.


Seperti mimpi yang sama sekali tak bisa dipercaya.

Haruskan aku mulai dari waktu malam yang lebih panjang dari siang? Matahari terbit pada pukul 7  lewat dan matahari terbenam pada pukul 5.20-an. Udara kering luar biasa hingga membuat kulitku kering, gatal, terkelupas, mudah terluka. Seringkali aku akan mendapati sudut-sudut jari, betis, lengan, bibirku terluka tiba-tiba tanpa tahu sebabnya. Suhu udara umumnya minus 2 derajat Celsius. Tapi ada saat-saat ketika suhu turun drastis hingga mencapai minus 13 hingga 14 derajat Celsius. Jika suhu udara drop mencapai angka-angka itu, berada di luar ruangan dan berjalan agak lama benar-benar membuatku ingin menangis.

Asramaku terletak di kaki bukit dekat universitas sehingga tiap kali aku kembali ke sana aku harus mendaki jalan menaik yang landai. Aku perlu sekitar 20 menit berjalan dari gedung Graduate School of International Studies ke asramaku. Jalan lain menuju asrama adalah lewat Gerbang Utara universitas (Yonsei University punya tiga gerbang, Gerbang Utama, Gerbang Timur, dan Gerbang Utara). Perlu 10 menit berjalan dari halte bis terdekat ke asramaku melalui gerbang Utara. Musim dingin benar-benar bukan pilihan terbaik untuk berjalan selama 20 menit. Beberapa kali aku mencoba melakukannya dan kurasakan kulit kedua kakiku perih dan sedikit demi sedikit mati rasa.

Angin adalah hal yang berbeda. Angin bisa membuat suhu udara minus 14 derajat Celsius terasa seperti minus 20 derajat Celsius. Minus 14 derajat: buruk. Minus 14 derajat dengan angin: jauh lebih buruk.

Aku ingat saat musim gugur aku pernah bertanya pada seorang teman,

“Berapakah suhu udara di Seoul saat musim dingin tiba?”

“Minus 2, atau minus 6″, jawabnya.

“What??!” I was freaking out.

Tapi sekarang aku akan sangat senang hati dan setuju berkata, “Minus 2 is good”.

And I am freaking serious.

Ketika salju turun, suhu udara terasa hangat. Salju tidak akan turun jika suhu udara terlalu hangat. Tapi salju juga tidak akan turun jika suhu udara terlalu dingin.

Salju yang turun terlihat seperti kapas-kapas kecil yang turun dari langit, bertebaran, ringan, indah.

Pagi hari setelah semalaman salju turun adalah pemandangan terindah. Ketika gunung dan pohon-pohon tak berdaun tertutup substansi putih yang seperti pasir adalah hal yang paling kusuka dari musim dingin. Seperti dunia yang berbeda. Ketika atap-atap rumah, bebatuan, dan mobil-mobil tertutup salju adalah seperti melihat dunia miniatur di Wonderland.

Pagi-pagi sekitar pukul 7, dengan hari yang masih gelap karena matahari belum terbit, paman-paman petugas keamanan di sekitar universitas akan sibuk memindahkan salju dari jalan-jalan dengan sekop. Hingga jalan-jalan akan terlihat begitu mungil dan tak berujung dengan tumpukan pasir salju di kanan kirinya. Biarpun salju-salju itu telah disingkirkan, salju yang tertinggal di jalan-jalan itu tetap saja membuatnya licin. Aku jatuh dua kali di jalan yang licin karena salju. Aku bahkan tidak sadar kalau aku jatuh. Aku berjalan, dan tiba-tiba saja aku sudah duduk manis di atas jalanan licin yang berlapis es.

Sisa salju di kota tidak akan mencair hingga beberapa hari bahkan seminggu sejak salju turun. Dan jalan-jalan akan tetap licin. Salju yang terakumulasi dan terinjak-injak akan menggumpal, mengeras, dan menjadi batu es, jauh lebih licin daripada salju segar yang menumpuk. Aku harus ekstra hati-hati berjalan di salju macam ini. Berkali-kali teman-temanku jatuh di atas salju yang seperti es itu. I would rather slide with my shoes than walking on that kind of ice.


Satu hal lagi yang berbahaya adalah jika tumpukan salju di ranting-ranting pepohonan jatuh. Butiran-butiran besar tumpukan salju itu bisa jatuh tiba-tiba dan menimpa kepala siapa saja yang melintas di bawahnya.

Tapi dingin tak mengentikan orang-orang termasuk aku untuk beraktivitas seperti biasa. Keluar, berjalan di tengah dingin dengan napas berasap dan pipi dan hidung memerah karena dingin yang menggigit. Dan cerobong di atap gedung-gedung akan mengeluarkan asap putih sebagai tanda bahwa energi agar aktivitas dalam gedung terus berjalan, tengah dikonsumsi terus-menerus.

Dan musim dingin tetap seperti mimpi.

Fall, is still my favorite season of all. But I like the feeling of being able to sit and write in my warm and comfortable room with heater while it’s snowing out there, just outside the window.

About these ads

5 thoughts on “Musim Dingin Januari

  1. woowww, sebelum kesana kayaknya musti punya cadangan lemak yg banyak nih. hehehe…
    pa kabar na?
    baru kali ini nih mampir di blognya nana. :D

  2. hi nana…mau nanya nih..klo mau ke seoul sekitar pertengahan februari msi dingin banget ga ya…??? soalnya mau ajak ortu kesana, takut mereka ga kuat dingin…thx yaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s