“Don’t you want to know the truth?”
berkali-kali aku menanyakan itu pada diriku sendiri ketika pikiranku tengah sibuk berpikir apakah aku benar-benar ingin menjadi akademisi selama sisa waktu hidupku. Dan ujung dari pikiran ini adalah menghabiskan waktu lama di depan komputer, membaca websites, jurnal, berita berisi hal-hal yang ingin kuketahui kebenarannya. Dan entah kapan dan bagaimana aku berakhir pada tulisan-tulisan tentang kajian ke-Indonesia-an, Indonesian Studies.
Membaca tentang Indonesian Studies, meski singkat dan dangkal, ada semacam konsensus di antara kaum pemerhati Indonesian Studies, bahwa sangat sedikit orang Indonesia yang meneliti dan menulis tentang Indonesia dalam bahasa Inggris (Reid in Rakhmani, Blogspot, Available online, 14 November 2011). Anthony Reid (Tempo, 14-20 November 2011), seorang Indonesianis menyimpulkan bahwa
“Indonesia adalah negara yang paling tidak efektif menceritakan dirinya sendiri kepada dunia. Satu ironi yang perlu diubah,” mengingat bahwa “90 persen publikasi dalam jurnal akademis tentang Indonesia ditulis bukan oleh orang yang tinggal di Indonesia.” (in Rakhmani, Blogspot, Available online, 14 November 2011).
Aku setuju dengan argumen ini. Hal yang paling jelas menunjukkan penyebaran tulisan-tulisan tentang Indonesia yang ditulis para peneliti asing adalah kewajiban mengambil mata kuliah Sejarah Indonesia bagi setiap mahasiwa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP UI) yang memakai buku wajib Sejarah Indonesia milik Merle Calvin Ricklefs yang bukanlah seorang Indonesia. Bahkan orang-orang yang mau mengambil program S3 di jurusan Sastra Jawa harus jauh-jauh pergi ke Belanda karena UI tidak menyediakan program itu. Investigasi kecil-kecilan tentang Indonesian Studies berlanjut. Kutemukan bahwa tidak ada satupun universitas di Indonesis yang menawarkan Indonesian Studies bagi para pelajar asing yang ingin belajar tentang Indonesia. Negara kita tidak punya institusi kajian ke-Indonesia-an satupun yang mampu menjadi penyimpan dan penyusun database penelitian tentang Indonesia dalam bahasa Inggris tempat para pelajar asing bisa datang dan meneliti. Hal serupa terjadi di tempatku dilahirkan, Madura. Ada dua universitas publik di pulau Madura, dan tidak satupun yang menyediakan jurusan kajian ke-Madura-an, tidak dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.
Sebagai pembanding, di Korea Selatan, misalnya, universitas-universitas publik maupun privat menyediakan program Korean Studies dalam bahasa Inggris yang ditujukan bagi para pelajar asing yang ingin belajar tentang Korea. Universitas-universitas, seperti Yonsei University, mendirikan Institute of Modern Korean Studies yang dimotori para peneliti dan ahli Korean Studies yang adalah orang-orang Korea. Insitusi-institusi Modern Korean Studies dari berbagai universitas ini akan berkumpul sekali dalam beberapa tahun dalam Korean Studies Forum (KSF) di mana mereka mendiskusikan, menulis, dan menerbitkan trend-trend terbaru dalam kajian Modern Korean Studies dalam bahasa Inggris. Sejauh ini, KSF sudah menerbutkan empat jurnal yang awalnya diterbitkan berbentuk seperti photocopy-an di edisi pertama hingga tercetak dalam bentuk hard cover dalam edisi ke-empat. Ini dimotori murni oleh universitas, tempat harta ilmu pengetahuan mestinya terus dicari, disusun, dan disimpan.
Baiklah, sampai di sini, tidak apa-apa. Toh, tidak mudah mendirikan sebuah institusi kajian keilmuwan. Namun, hatiku hancur berkeping-keping (majas melebih-lebihkan) ketika aku melihat buku “A Grammar of the Madurese Language” yang ditulis William D. Davies diterbitkan tahun 2010. Buku tersebut adalah hasil dari proyek lima tahun University of Iowa yang disusun dan diterbitkan karena tidak ada satupun publikasi dalam bahasa Inggris tentang syntax bahasa Madura. William Davis mendaulat bahwa,
“The grammar will fill a void in the relatively small literature on Madurese, the fourth most widely spoken language in the world’s fifth most populous nation, and will serve as a reference for linguists and anthropologists with various interests.” (Davis, 2010).
Sebuah klaim yang memalukan bagi orang-orang Madura dan Indonesia yang selama ini ‘tidak mampu’ menulis dan menerbitkan satupun buku yang lengkap tentang bahasa yang mereka gunakan sendiri.
Sedikit sekali orang-orang Indonesia yang mengkaji dan mempublikasikan penelitian tentang Indonesian Studies. Hal ini, diprediksi tidak akan berubah dalam waktu dekat (Rakhmani, Blogspot, Available online, 14 November 2011), meskipun Inaya Rakhmani gagal menyebutkan berapa lama hal ini akan terus berlangsung. Ini seperti mengatakan bahwa selama ini dan selama beberapa waktu atau bahkan mungkin dalam waktu lama ke depan, orang-orang yang bukan orang Indonesialah yang akan menulis dan menceritakan sejarah kita pada dunia. Ini mirip dengan apa yang terjadi pada Korea di bawah masa penjajahan Jepang, ketika Jepang menulis tentang Choson Dynasty, dinasti terakhir kerajaan Korea hingga Jepang secara resmi menjadikan Korea koloninya tahun 1910. Saat itu, orang-orang Jepanglah yang menulis tentang Choson Dynasty dalam bahasa Inggris. Mereka melihat Choson sebagai kerajaan statis yang gagal mendorong perubahan pada masyarakat Korea, terbelakang dan lambat mempraktikkan modernisasi dan kemajuan (JSTOR, Available online, 1995). Para sejarahwan Korea kemudian berusaha menulis ulang interpretasi sejarah Choson Dynasty (JSTOR, Available online, 1995).
The Annals of the Chosun Dynasty
Tentu kita juga harus ingat bahwa Choson menulis sejarahnya sendiri. Chosun menulis rekaman sejarah tahunan yang disebut the Annals of the Choson Dynasty atau Sillok (1413-1865) yang terdiri dari 1.893 volum, didaulat sebagai rekaman terpanjang yang memuat periode kontinyu suatu dinasti. Dalam Sillok, terdapat deskripsi detil tentang apa yang dilakukan raja, pertemuan-pertemuan resmi dengan para pejabat istana, hingga deskripsi luar biasa detil tentang pemakaman seorang putri yang meninggal dunia. Dari Sillok, orang-orang dan dunia dapat mengetahui bahwa raja keempat mereka, Raja Sejong (Lee Do) diangkat menjadi raja ketika usianya baru 21 tahun, hanya dua bulan setelah Raja Tejong, sang ayah, menjadikannya putra mahkota. Sejong memimpin dengan damai, memformulasikan dan menyebarluaskan aksara Korea Hangeul agar rakyatnya bisa membaca dan menulis, dan mendapat sebuatan ‘The Great’ setelah namanya, satu-satunya raja Choson yang mendapat sebutan ‘The Great’. Berapa banyak kerajaan di Indonesia yang menyimpan catatan sejarah yang detil tentang diri mereka sendiri?
Lalu mengapa sedikit sekali orang Indonesia yang menerbitkan tulisan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris?
Endnotes
Davies, William D. 2010. A Grammar of The Madurese Language. Berlin: Mouton de Gruyter. Print.
Palais, James B. “A Search for Korean Uniqueness.” Harvard Journal of Asiatic Studies Vol. 55, No. 2, Dec. 1995. Web. http://www.jstor.org/pss/2719348.
Rakhmani, Inaya. On Why There Are Few Indonesians in Indonesian Studies. Nov. 14. 2011. ttp://inayarakhmani.blogspot.com/2011/11/on-why-there-are-few-indonesians-in.html.
Tempo, 14-20 November, 2011.














