Ready to Farewell

Sembari menunggu salah seorang teman  yang sedang potong rambut di salon Park Jun di Shinchon, muncul keinginan menulis tiba-tiba. Dan aku sudah merasa teralienasi dari Seoul, dari Korea. Aku sudah merasa asing dan bukan penguni Korea lagi. Aku sudah siap mengucapkan selamat tinggal. Kalimat terakhir tadi adalah hal yang aku rasakan sekarang. Hal yang kurasakan seminggu lalu. Bahwa aku sudah siap meninggalkan Seoul. Tapi tidak ada istilah ‘siap’ dalam mengucapkan selamat tinggal. Tidak ada kata ‘siap’ dalam perpisahan.

Dua hari yang lalu, aku berpisah dengan seorang teman setelah kami jalan bareng. Selamat jalan, sampai di sini, dan permohonan maaf atas segala tindakan yang pernah dilakukannya padaku yang mungkin menyakitiku keluar dari mulutnya.

‘Saya juga, maafkan kalau ada kesalahan saya.”

Aku ingin sekali mengatakan itu. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa.

Kami berpisah begitu saja.

Tidak ada yang istimewa.

Malamnya, hari itu juga, temanku ini menelpon. Mengajakku mengerjakan suatu proyek bersama meskipun aku sudah kembali ke Indonesia nantinya. Aku menyambut tawaran itu. Dan ia mengakhiri telponnya.

“Ya udah, ya. Assalamu’alaikum.”

“‘Alaikum salam wr. wb.” balasku dengan suara kecil dan bergetar.

Dan tiba-tiba saja, aku ingin menangis. Dan tiba-tiba saja, semua kebaikan yang pernah dilakukannya untukku berputar kembali seperti film di benakku.

Terima kasih,

untuk bantuan selama aku mengajar di sini

untuk mendengarkan dan menuruti semua kata-kata dan permintaanku

untuk pengorbanan yang kau lakukan,

terima kasih.

Aku ingin sekali mengatakan semua itu. Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Aku menutup telpon itu. Lalu menangis dengan baik. Suasana perpisahan begitu kuat bagiku malam itu. Mungkin karena esok harinya aku akan pindah ke tempat lain. Mungkin juga karena aku akan berpisah dengan Seoul. Dan berpisah dengan teman-temanku yang sudah begitu baik selama ini. Dan semua itu menciptakan tekanan yang tidak mampu kutampung. The pressure of farewell was so strong that my heart could not contain it. 

I was surprised by the fact that tears bursted through my eyes.

I was surprised  by the fact that, aku merasa kehilangan.

I have nothing to regret. 

Hari ini langit mendung, dan udara tidak lagi sedingin hari-hari sebelumnya.

Yonsei tetap kelabu dan berkabut.

Seperti tepat dua tahun lalu, ketika aku datang ke Yonsei untuk pertama kali untuk program masterku.

… Just pack the bag, and leave…

Nothing keeps me from leaving Korea. If not for my commencement ceremony, I would’ve left this country long ago, right after a heavy snow last time stormed Seoul in February. The whole experience of the end of last year and the beginning of this year have sounded it out well enough to me: That being in Korea is now too heavy for me, that this country have marked something in my heart more than I could bear, hence thereof, I need to leave. I want to leave.

Is that all? Yeah, maybe. Maybe not. Maybe it’s just an undefined feeling to leave. Just as Alain de Botton told in his book ‘The Art of Travel’, that maybe all I want is to go to “just anywhere but here.”

I always do that; follow my heart. Just whenever I needed to get out of Seoul,  I always had gone somewhere; Daejeon, Incheon, home. I didn’t even need or have the time to plan. I had always packed my bag and left; and I never turned my head backward. I never had to.

Seoul has been treating me well. Daejeon was lovely. Seoul has been firm to me.

I have only two ambitions, two places I want to go to in Korea, now. I had tried to find the first place but I had failed. The map was wrong and I was disappointed to my self for why  couldn’t I find it. I ended up in an endless journey, was lost, and alone. Strangely, I never felt lonely during the journey. Not even a second.

Yonsei was different in my eyes that day,

How and why it was different, I wish I could explain.

And since when Seoul was soundless in my eyes,

I was prepared to go to that place. But yeah, the map was wrong so I couldn’t reach it. And salvation was needed, just for the sake of entertaining my self. Perhaps an acknowledgment, an excuse, that even though I couldn’t find what I looked for, at least I went somewhere. I chose a waffle shop at the corner of a subway station which turned out to be the most delicious waffle I have ever eaten.

And the place was surreal and unfamiliar for me. I still thought it was beautiful.

I love every second of the journey. It was mine.

The 17-year-old me, and the 24-year-old me have never changed in the way we feel things.

Though we love different people, both will fall in love to similar things, similar personalities, similar values. Why similar? Because nothing is the same with something else. Each individual, each thing, each moment is different. Each has its/his/her own story.

I wish words could express feelings fully. I know they never will be able to. Perhaps this is how I say goodbye to Seoul. And now every time I walk the same ways, the same places, I don’t feel the same anymore. Because this could be the last time I walk that way, that place. That everything could just end anytime without me properly saying goodbye.

It’s fine.

Seoul has the most beautiful moon.

I will just disappear.

And Seoul will meet other individuals, other encounters.

And I will never look back to Seoul either.

Institusionalisasi Indonesian Studies (Bagian 2)

Igauan tentang Indonesian Studies berlanjut.
Salah satu masalah keberadaan dan keberlanjutan Indonesian Studies adalah sedikitnya orang-orang yang tinggal di Indonesia menulis dan menerbitkan jurnal atau tulisan dalam lingua franca (Tempo, 14-20 November 2011), yang pada akhir Perang Dunia II adalah bahasa Inggris, salah satu hal yang menandai berdirinya Pax Americana (supermasi militer dan ekonomi Amerika Serikat). Lingua franca bisa saja bahasa Perancis kalau kita mengadakan hubungan diplomatik di Eropa pada abad ke 17, 18, 19, dan pertengahan abad ke-20, atau bahasa Cina klasik kalau kita ada di Cina, Mongolia, Korea, dan Jepang sebelum pertengahan abad ke-20. Dalam hal menulis dan menerbitkan tulisan tentang Indonesia, sedikitnya ada dua masalah yang dihadapi Indonesia, pertama, cuma karena Indonesia ‘tidak menulis’, kedua, Indonesia sedikit menulis dalam lingua franca.
Nah, Indonesia masih ‘tidak menulis’ adalah salah satu jawaban dari mengapa tidak banyak dari kita yang menulis dan mempublikasikan tulisan kita. Doktrin lamanya adalah, bahwa masyarakat Indonesia masih berbudaya lisan bukan berbudaya menulis. Aku akan menyebutnya budaya ‘archiving‘, menyimpan dan menyusun rekaman kejadian. Faktanya, hanya sekitar 23 persen lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia yang punya kesempatan menikmati bangku perguruan tinggi (Rakyat Merdeka Online: Available online, 1 Februari 2011). Kurang dari empat persen dari seluruh penduduk Indonesia meraih gelar sarjana (Berita 8: Available online, 20 Oktober 2010). Sebagai perbandingan, di India, jumlah orang yang lulus perguruan tinggi tingkat S1 mencapai 16 % (Berita 8: Available online, 20 Oktober 2010), yeah, that’s how far we are left behind. Jumlah penduduk yang melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 tentu lebih sedikit lagi. Lebih jauh, yang produktif menulis, mempublikasikan, dan/atau menyusun produk tulisan yang bisa dikutip secara akademis bisa jadi lebih sedikit lagi.
Tempo (14-20 November 2011) merangkum bagaimana Indonesian Studies berkembang dan mendapat perhatian di universitas-universitas di luar Indonesia, Leiden, Cornell, Harvard. Di tahun 1960-70an misalnya, dana penelitian untuk Indonesian studies cukup banyak diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat karena perkembangan komunisme di Indonesia (Tempo, 14-20 November).  Kini, Indonesia tidak begitu signifikan bagi Amerika Serikat dalam segi militer mengingat kecilnya dana bantuan militer Amerika Serikat untuk Indonesia dibandingkan dana bantuan militer AS untuk Israel, Mesir, Jordania, atau Rusia (United States Census Bureau, Statistical Abstract of the United States: Available online, 2009). Setelah 9/11 perhatian AS berpindah ke Timur Tengah. Selama lebih dari satu dekade terakhir, AS memusatkan perhatian kebijakan luar negeri di bidang pertahanannya pada Timur Tengah, meskipun hanya beberapa waktu lalu, AS mulai memberi perhatian lebih besar pada Asia. Setelah Suharto jatuh, geliat penelitian di institusi-institusi Indonesian Studies di Eropa dan Amerika Utara mulai menurun. Kini, dana untuk Indonesian Studies di universitas-universitas di Amerika Serikat kembali meningkat (Tempo, 14-20 November 2011). Cornell University misalnya, punya proyek ambisius Cornell Modern Indonesia Project untuk mengumpulkan, menganalisis, menyimpan hal-hal yang terjadi di Indonesia pasca Suharto  (Tempo, 14-20 November 2011).
Adakah yang bisa kita lakukan?
Well, aku bukan siapa-siapa. “
Aku ingin sekali mengatakan itu. Satu kalimat, aku bebas dari tanggung jawab, selesai perkara. Diikuti perdebatan pantas atau tidak pantaskah aku bicara tentang Indonesian Studies karena aku bukan lulusan bidang Indonesian Studies dan aku bahkan tidak sedang berada di Indonesia sekarang.
Aku bosan dengan semua surat ijin berisi berbagai alasan itu.
Mengapa tidak mulai dari universitas, kaum akademisi. Mendirikan Institute of Indonesian Studies atau Institute of Modern Indonesian Studies seperti bagaimana universitas-universitas di Korea melakukannya. Hankuk University of Foreign Studies di Seoul, misalnya, mendirikan ASEAN Studies research centre dan menawarkan program Indonesian Studies hingga program master, diikuti jenjang doktoral  South East Asian Area Studies. Institusi macam ini bisa awalnya menjalankan fungsi archiving dan menerjemahkan terbitan-terbitan tentang Indonesia dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.  Diikuti dengan membuka program studi bagi mahasiswa asing, mendanai penelitian, fungsi networking, dan menerbitkan tulisan-tulisan akademik tentang ke-Indonesia-an.
Butuh dana lagi! Well, tentu saja. Itu kan gunanya universitas menjadi BUMN dan biaya pendidikan makin lama makin mahal?! Dan kita tidak harus melakukan semuanya sendirian. Dan kita selalu bisa mulai dari bawah, membiasakan budaya berargumentasi dan menulis di tingkat sekolah-sekolah dasar dan menengah. Becoming a high school teacher is not bad at all!

Endnotes

“Cuma 23 Persen Lulusan SMA yang Nikmati Bangku Kuliah.” Rakyat Merdeka Onilne. 1 Feb 2011. Web. 1 Feb 2012. http://ekbis.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/02/01/16735/Cuma-23-Persen-Lulusan-SMA-Yang-Nikmati-Bangku-Kuliah-

“Jumlah Sarjana di Indonesia di Bawah 4 Persen dari Jumlah Penduduk.” Berita 8. 20 Okt 2010. Web. 1 feb 2012. http://www.berita8.com/read/2010/10/20/5/31223/about_us.php.

Tempo, 14-20 November 2011.

United States Census Bureau, Statistical Abstract of the United States, 2009.

Institusionalisasi Indonesian Studies (Bagian 1)

“Don’t you want to know the truth?” 

berkali-kali aku menanyakan itu pada diriku sendiri ketika pikiranku tengah sibuk berpikir apakah aku benar-benar ingin menjadi akademisi selama sisa waktu hidupku. Dan ujung dari pikiran ini adalah menghabiskan waktu lama di depan komputer, membaca websites, jurnal, berita berisi hal-hal yang ingin kuketahui kebenarannya. Dan entah kapan dan bagaimana aku berakhir pada tulisan-tulisan tentang kajian ke-Indonesia-an, Indonesian Studies.

Membaca tentang Indonesian Studies, meski singkat dan dangkal, ada semacam konsensus di antara kaum pemerhati Indonesian Studies, bahwa sangat sedikit orang Indonesia yang meneliti dan menulis tentang Indonesia dalam bahasa Inggris (Reid in Rakhmani, Blogspot, Available online, 14 November 2011). Anthony Reid (Tempo, 14-20 November 2011), seorang Indonesianis menyimpulkan bahwa

“Indonesia adalah negara yang paling tidak efektif menceritakan dirinya sendiri kepada dunia. Satu ironi yang perlu diubah,” mengingat bahwa “90 persen publikasi dalam jurnal akademis tentang Indonesia ditulis bukan oleh orang yang tinggal di Indonesia.” (in Rakhmani, Blogspot, Available online, 14 November 2011).

Aku setuju dengan argumen ini. Hal yang paling jelas menunjukkan penyebaran tulisan-tulisan tentang Indonesia yang ditulis para peneliti asing adalah kewajiban mengambil mata kuliah Sejarah Indonesia bagi setiap mahasiwa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP UI) yang memakai buku wajib Sejarah Indonesia milik Merle Calvin Ricklefs yang bukanlah seorang Indonesia. Bahkan orang-orang yang mau mengambil program S3 di jurusan Sastra Jawa harus jauh-jauh pergi ke Belanda karena UI tidak menyediakan program itu. Investigasi kecil-kecilan tentang Indonesian Studies berlanjut. Kutemukan bahwa tidak ada satupun universitas di Indonesis yang menawarkan Indonesian Studies bagi para pelajar asing yang ingin belajar tentang Indonesia. Negara kita tidak punya institusi kajian ke-Indonesia-an satupun yang mampu menjadi penyimpan dan penyusun database penelitian tentang Indonesia dalam bahasa Inggris tempat para pelajar asing bisa datang dan meneliti. Hal serupa terjadi di tempatku dilahirkan, Madura. Ada dua universitas publik di pulau Madura, dan tidak satupun yang menyediakan jurusan kajian ke-Madura-an, tidak dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Sebagai pembanding, di Korea Selatan, misalnya, universitas-universitas publik maupun privat menyediakan program Korean Studies dalam bahasa Inggris yang ditujukan bagi para pelajar asing yang ingin belajar tentang Korea. Universitas-universitas, seperti Yonsei University, mendirikan Institute of Modern Korean Studies yang dimotori para peneliti dan ahli Korean Studies yang adalah orang-orang Korea. Insitusi-institusi Modern Korean Studies dari berbagai universitas ini akan berkumpul sekali dalam beberapa tahun dalam Korean Studies Forum (KSF) di mana mereka mendiskusikan, menulis, dan menerbitkan trend-trend terbaru dalam kajian Modern Korean Studies dalam bahasa Inggris. Sejauh ini, KSF sudah menerbutkan empat jurnal yang awalnya diterbitkan berbentuk seperti photocopy-an di edisi pertama hingga tercetak dalam bentuk hard cover dalam edisi ke-empat. Ini dimotori murni oleh universitas, tempat harta ilmu pengetahuan mestinya terus dicari, disusun, dan disimpan.

Baiklah, sampai di sini, tidak apa-apa. Toh, tidak mudah mendirikan sebuah institusi kajian keilmuwan. Namun, hatiku hancur berkeping-keping (majas melebih-lebihkan)  ketika aku melihat buku “A Grammar of the Madurese Language” yang ditulis William D. Davies diterbitkan tahun 2010. Buku tersebut adalah hasil dari proyek lima tahun University of Iowa yang disusun dan diterbitkan karena tidak ada satupun publikasi dalam bahasa Inggris tentang syntax bahasa Madura. William Davis mendaulat bahwa,

“The grammar will fill a void in the relatively small literature on Madurese, the fourth most widely spoken language in the world’s fifth most populous nation, and will serve as a reference for linguists and anthropologists with various interests.” (Davis, 2010).

Sebuah klaim yang memalukan bagi orang-orang Madura dan Indonesia yang selama ini ‘tidak mampu’ menulis dan menerbitkan satupun buku yang lengkap tentang bahasa yang mereka gunakan sendiri.

Sedikit sekali orang-orang Indonesia yang mengkaji dan mempublikasikan penelitian tentang Indonesian Studies. Hal ini, diprediksi tidak akan berubah dalam waktu dekat (Rakhmani, Blogspot, Available online, 14 November 2011), meskipun Inaya Rakhmani gagal menyebutkan berapa lama hal ini akan terus berlangsung. Ini seperti mengatakan bahwa selama ini dan selama beberapa waktu atau bahkan mungkin dalam waktu lama ke depan, orang-orang yang bukan orang Indonesialah yang akan menulis dan menceritakan sejarah kita pada dunia. Ini mirip dengan apa yang terjadi pada Korea di bawah masa penjajahan Jepang, ketika Jepang menulis tentang Choson Dynasty, dinasti terakhir kerajaan Korea hingga Jepang secara resmi menjadikan Korea koloninya tahun 1910. Saat itu, orang-orang Jepanglah yang menulis tentang Choson Dynasty dalam bahasa Inggris. Mereka melihat Choson sebagai kerajaan statis yang gagal mendorong perubahan pada masyarakat Korea, terbelakang dan lambat mempraktikkan modernisasi dan kemajuan (JSTOR, Available online, 1995). Para sejarahwan Korea kemudian berusaha menulis ulang interpretasi sejarah Choson Dynasty (JSTOR, Available online, 1995).

The Annals of the Chosun Dynasty

Tentu kita juga harus ingat bahwa Choson menulis sejarahnya sendiri. Chosun menulis rekaman sejarah tahunan yang disebut the Annals of the Choson Dynasty atau Sillok (1413-1865) yang terdiri dari 1.893 volum, didaulat sebagai rekaman terpanjang yang memuat periode kontinyu suatu dinasti. Dalam Sillok, terdapat deskripsi detil tentang apa yang dilakukan raja, pertemuan-pertemuan resmi dengan para pejabat istana, hingga deskripsi luar biasa detil tentang pemakaman seorang putri yang meninggal dunia. Dari Sillok, orang-orang dan dunia dapat mengetahui bahwa raja keempat mereka, Raja Sejong (Lee Do) diangkat menjadi raja ketika usianya baru 21 tahun, hanya dua bulan setelah Raja Tejong, sang ayah, menjadikannya putra mahkota. Sejong memimpin dengan damai, memformulasikan dan menyebarluaskan aksara Korea Hangeul agar rakyatnya bisa membaca dan menulis, dan mendapat sebuatan ‘The Great’ setelah namanya, satu-satunya raja Choson yang mendapat sebutan ‘The Great’. Berapa banyak kerajaan di Indonesia yang menyimpan catatan sejarah yang detil tentang diri mereka sendiri?

Lalu mengapa sedikit sekali orang Indonesia yang menerbitkan tulisan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris?

Endnotes

Davies, William D. 2010. A Grammar of The Madurese Language. Berlin: Mouton de Gruyter. Print.

Palais, James B. “A Search for Korean Uniqueness.” Harvard Journal of Asiatic Studies Vol. 55, No. 2, Dec. 1995. Web. http://www.jstor.org/pss/2719348.

Rakhmani, Inaya. On Why There Are Few Indonesians in Indonesian Studies. Nov. 14. 2011. ttp://inayarakhmani.blogspot.com/2011/11/on-why-there-are-few-indonesians-in.html.

Tempo, 14-20 November, 2011.

Badai

Karena menulis bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, bukan juga hal yang bisa ditekan, ketika keinginan untuk menulis terlalu kuat, seperti sekarang ini, I ended up, menunda sarapan dan aktivitas lain, writing. Menulis adalah bagian akhir dari babak cerita fiktif dalam sastra, dataran landai yang menurun setelah puncak gunung, gerimis setelah badai. Keinginan kuat untuk menulis, setidaknya untukku, selalu datang ketika cerita hampir berakhir. Karena di situlah saat ketenangan sudah melindungi hati yang bergolak dan saat kisah hampir melengkapi pikiran. Saat yang mengizinkan aku untuk duduk dan berpikir.

Setiap orang melalui badainya masing-masing ketika waktunya tiba. Badaiku, selama beberapa minggu yang lalu, bernama kebodohan. Kukatakan dengan jujur ya, kawan, dan kau lihat dari tulisan-tulisanku sebelumnya, masih bulan lalu, aku sudah merasa puas dengan segala hal yang diberikan Tuhan padaku. Aku merasa aku yang sekarang sudah cukup baik. Merasa bahwa kisahku sudah selesai, dan merasa aku tidak punya penyesalan. Aku belajar menerima kenyataan bahwa manusia tidak mungkin tahu semua hal, makanya, makanya tanpa kusadari,

aku,

sedikit demi sedikit, berhenti belajar.

Aku akan membela diri. Ini bukan karena arogansi, merasa bahwa aku telah tahu banyak hal. Tapi karena aku merasa sudah tidak punya keinginan untuk mengenal hal-hal baru. Dan itu membuatku tidak tahu.

Ketidaktahuan berujung pada kebodohan.

Kupikir apa yang kuketahui tentang menulis skripsi selama ini sudah cukup untuk menulis tesis master. I was wrong. Kebiasaan mengerjakan segala sesuatu sendiri, kebiasaan untuk tidak bertanya pada orang lain, kebiasaan untuk memikirkan semuanya sendiri, membuatku tidak tahu. And above all those, kenapa selama ini aku tidak menyadari bahwa aku salah? Aku tidak tahu bahwa aku tidak tahu. Apalagi kata yang bisa mendeskripsikan hal itu selain ‘kebodohan’?

Aku terbatas.

Pengetahuanku terbatas.

Itu bodoh.

Dan yang lebih mengecewakan adalah kenyataan bahwa diriku bahkan tidak punya keinginan untuk menembus batas itu.

And I call my self ‘a scholar’?

Curiosity is an instinct a scholar should have. 

I lost it. 

And I was wrong. 

The world is unforgiving. Tidak ada toleransi untuk ketidaktahuan. Kau ada di sini, kau memilih untuk melakukan sesuatu, kau harus tahu bagaimana melakukannya. Kalau kau tidak tahu, cari tahu cara agar kau bisa tahu. Saat-saat di mana aku ingin berhenti dan melarikan diri, aku masih ingat. Saat-saat aku tidak punya motivasi untuk menyelesaikan apa yang kumulai. Dan sungguh hanya Allah yang memberiku kekuatan untuk tetap ada di situ dan bertahan. Well, saat aku ada di situ, aku merasa aku tidak akan bisa bertahan. Betapa lemah dan kecilnya kita, ya. I was so vulnerable that I could break.

All the hardships and pressures I felt my heart could not contain, now I see them as a blessing.

Cara Allah melindungi aku dari kebodohan.

“Jangan berhenti belajar” adalah kata yang jauh lebih sulit untuk dilakukan daripada kedengarannya. Dan terkadang perlu pengalaman traumatic untuk mendorong orang bodoh sepertiku untuk belajar lebih banyak lagi, mengambil keputusan untuk maju meski hanya selangkah saja. Dan apa artinya menjadi ‘a scholar‘ aku kembali memikirkannya. Kali ini, memikirkannya baik-baik.

Sekali Lagi

Ada hal-hal ya, yang akan kubaca berulang-ulang.

Berpikir, dan kubaca lagi.

Yang sampai berapa kalipun kubaca, tidak akan pernah cukup.

Dan ada individu-individu, yang meskipun aku tidak terlalu mengenal mereka, ingin kutemui lagi di beberapa kesempatan di waktu hidupku.

Seperti seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelahku di penerbanganku ke Singapura dua tahun lalu, misalnya. Kurasa dia mengatakan sesuatu tentang makanan padaku, ah tidak, aku yang pertama kali menanyakan akan ke mana si ibu itu. Ah, aku bahkan tidak ingat bagaimana percakapan di antara kami dimulai. Kurasa ibu itu bertanya hendak ke mana aku. Paris, begitu kataku. Dan cerita bahwa si ibu baru saja pulang dari Spanyol mengalir begitu saja. Dia menyebutkan nama beberapa tempat di Eropa yang ia sukai, Vienna, Bonn, Madrid…

“Kalau ibu mau ke mana?” tanyaku.

“Sydney.”

“Kenapa memilih terbang ke Singapura dulu?”

dan dia mengatakan, demi bisa terbang dengan airline yang kami tumpangi hari itu.

Supel dan terbuka. Begitu aku akan mendeskripsikan ibu itu. Dia bahkan sempat  bergurau dengan si pramugara pesawat, mengatakan,

“the fish is a bit fishy,”

“it’s a fish!” kata si pramugara.

dan tiba-tiba saja aku merasa kesulitan untuk menahan tawa.

Kami berpisah ketika pesawat itu mendarat di bandara Changi. Aku melihat ibu itu sekali lagi di toilet bandara, kami tersenyum kepada satu sama lain, kemudian aku berlalu.

Aku ingin bertemu ibu itu lagi di penerbanganku lain kali.

Cuma untuk mendengar ceritanya sekali lagi tentang Madrid,

atau Vienna.

Fakta bahwa ibu itu adalah seorang Chinese-Indonesian tidaklah penting.

Lalu ya,

aku ingin terus-menerus duduk cuma untuk mendengarkan salah seorang temanku di Yonsei berbicara. Ketika dia bicara, dia akan menjadi pusat perhatian, di manapun itu. Begitu dia bicara, waktu seolah berhenti, dan semua mata dan rasa ingin tahu, afeksi, akan tertarik ke arahnya. Dia masuk akal dengan argumennyat ketika bicara. Apa yang dia bicarakan tidaklah sepenting bagaimana ia bicara.

Biasanya aku lupa saat pertama kali aku berjumpa dengan seseorang. Sebagian besar karena aku tidak melihat orang itu, tidak peduli, tidak memperhatikan, atau aku tengah mengerjakan hal-hal lain saat itu. Tapi aku ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Did I shake his hand? I don’t remember. But it was in the library. Di banyak waktu setelah itu, aku sering sekali bertemu dengannya di perpustakaan. Dan dia akan ada di situ. Membaca.

Sekali lagi,

aku ingin duduk dan mendengarkan ia bicara.

Lalu ada profesor Michael Kim. Profesor yang mengajar mata kuliah sejarah media massa di Korea. Aku mengambil kelas profesor Michael Kim hanya sekali di seluruh masa kuliahku di Yonsei GSIS. Kelas yang diajar beliau diadakan setiap hari Senin pagi pukul 9. Beliau tidak pernah datang terlambat ke kelas, selalu mengadakan kelas pengganti jika beliau tidak bisa hadir di kelas menurut jadwal. Marxisme, ideologi, teori kritis, hal-hal yang kukenal dengan baik itu, selalu mengalir lancar dari bibir sang Profesor jenius itu di setiap kelas hari Senin. Perfeksionis, sulit memuji, cerdas, dan sangat kritis. Dan di ruang kantornya yang tidak terlalu besar, ada rak-rak buku yang setinggi atap ruangan dengan ratusan buku tersusun rapat. Beliau akan duduk di tengah ruangan itu, terkubur oleh rak-rak itu. Begitulah yang kuingat tentang beliau.

Aku ingin sekali lagi, masuk ke kelas beliau dan mendengarkan beliau menyampaikan kuliah.

Dalam waktu kita yang sempit ini,

ada orang-orang yang seperti itu, ya.

Orang-orang yang tidak ada di samping kita tiap hari, tidak terlalu kita kenal, tapi sekali lagi,

ingin kita temui.

No More Once Every Blue Moon

Masa lalu selalu membuatku jatuh cinta.

Memori indah yang kumiliki tergambar lebih indah daripada saat aku tengah melaluinya. Aku aneh. Dan aku selalu tahu itu.

Tapi ada saat-saat yang ingin aku lupakan.

Biasanya, aku tidak ingin melupakan hal-hal yang kualami, makanya aku rajin menulis di personal journal-ku. Untuk memastikan aku tidak melupakan saat-saat yang baru saja kualami.

Tapi ada ya, saat-saat yang ingin kita lupakan. Saat-saat yang tidak pernah kita harapkan untuk kita lalui dan tidak ingin lagi kita tengok di masa lalu.

Ada saat yang begitu menyakitkan hingga membuat kita patah harapan dan merasa rapuh. Saat-saat yang membuat kita sakit sebelum kita tidur begitu juga ketika kita baru saja bangun dari tidur.

Dan tiada hari tanpa meneteskan air mata.

Rupanya saat-saat seperti itu datang juga, ya.

Pertama kali aku merasakan hal seperti itu.

Well, aku pernah merasa patah harapan yang menyakitkan sebelumnya sekali. Tapi yang itu datang secara tiba-tiba ketika stresku mencapai puncaknya. Itu, kurasa, saat aku tengah mengerjakan skripsiku.

Tapi hal menyakitkan yang baru saja kulalui beberapa hari yang lalu, itu baru pertama kali.

Tapi segala puji bagi Allah, Tuhanku.

Sungguhpun sakitnya hari-hari itu, aku bisa bercerita banyak pada Tuhan. Dan aku melakukan apapun dengan sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba saja, aku ingin berbuat baik pada semua orang. Tidak ingin aku menyakiti orang lain. Dan Ayah, Mama, sahabat, teman-teman dekatku, demi Tuhan, adakah yang lebih baik dari kalian? Kenapa begitu baik padaku? Kenapa lagi-lagi membuatku terharu sampai meneteskan air mata?

Kali ini, aku memutuskan untuk percaya pada kata-kata Ayah. That every thing is going to be alright. Aku selalu percaya kata-kata Ayah.

Kembalikan 6 tahunku!

Kembalikan semua kata-kata semangat dariku!

Aku ingin sekali mengatakan itu.

Tapi akhirnya aku tak mampu mengatakan apa-apa.

Aku sudah tidak punya keinginan untuk menanyakan, meyakinkan, atau mengatakan apa-apa.

Dan dunia sungguh tidak lagi sama di mataku, kini.

Aku takut menghadapi apa yang ada di depan jalan yang tidak kelihatan ini.

But I’m excited.

Because I know where it will end. 

Best Season of the Year

Semestinya aku tahu bahwa seringkali apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Lebih buruk atau lebih baik, bisa dua-duanya, relatif, ya. Tapi yang jelas, tidaklah sama.

Musim gugur misalnya, lebih indah dari yang pernah kubayangkan sebelumnya. Jauh lebih indah. Berjalan sendiri di jalan utama universitas yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan yang mulai menguning di bawah udara seperti AC tapi lebih menyegarkan, setelah menghabiskan beberapa lama di perpustakaan yang sunyi dan mendamaikan, jauh lebih indah daripada yang selalu kubayangkan. Tumpukan buku di tangan, jaket, dan sepatu boot. Dan orang-orang yang berlalu-lalang. Indah.

Atau kembali ke Indonesia lagi setelah satu setengah tahun, Indonesia yang ini tidaklah seperti yang kubayangkan. Tidak pernah aku membayangkan aku akan bertemu orang-orang sekorup itu di negaraku sendiri, misalnya.

Tapi musim gugur yang kubayangkan itu, tidaklah sama tanpa kamu, ya.

Dunia yang kutinggali, tidaklah sama kalau kamu tidak ada di situ.

Sejak kapan pula ya aku merasa aku akan pergi ke manapun asalkan kamu bersamaku?

Hah, pikiran-pikiran seperti ini hanya muncul ketika musim gugur datang.

Musim untuk membaca, kata peribahasa Korea. Dan memang rasanya membaca ketika musim gugur is way beyond my imagination.

Sampaikah apa yang kumaksud?

Bagaimana kamu akan membacanya?

Pasti dengan elegan dan tenang, ya. Karena begitulah kamu.

Bukankah kamu adalah orang yang kuterima?

Jujurlah Selagi Bisa

Alhamdulillah,

Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagia aku hari ini. Karena aku tidak membiarkan kisahku berakhir dengan penyesalan. Aku sudah memutuskan untuk jujur.

Aku ini, tidak bisa berpura-pura. I’m a bad actress. Meski sekuat apapun aku mencoba berpura-pura, aku tidak bisa menipu diriku. Aku menganggap pekerjaan berpura-pura adalah hal serius. Artinya penyangkalan terhadap apa yang sebenarnya kurasakan. Penyangkalan terhadap diri.

Aku menganggap semua hal serius. Aku menganggap tanggung jawabku serius, aku menganggap kuliahku serius, hubunganku dengan orang lain serius. I take my heart seriously. Tentu saja, apalagi tentang perasaanku sendiri.

Dan berkali-kali membohongi perasaanku, aku sudah tahu bagaimana rasanya. And it just didn’t work. Berkali-kali mencoba menghapus apa yang kurasakan dan kupikirkan tidak juga berhasil.

So, yes, this is the best thing that I could do.

I have done everything I could, and now I’ll let Allah decides.

Aku harap kamu mengerti.

Sekarang aku mau mengerjakan tesisku lagi. I take my thesis seriously too, haha.

Revolusi Pikiran

Sudah berapa lama ya,

sejak terakhir kali aku mengatakan sesuatu padamu?

Tentu saja, aku ingat.

Untuk hal itu, aku ingat.

Dan dorongan untuk menulis, sekarang begitu kuat, sehingga aku tidak sanggup menunggu hingga esok pagi. Berapa lama sudah aku kehilangan pagi?

Dan tiba-tiba saja, aku ingin bicara denganmu. Ada banyak hal yang ingin sekali kukatakan.

Yura.

Aku mengambil kelas Hukum Internasional semester ini. Lebih menarik dari yang kubayangkan setelah aku mulai membaca bukunya. Kenapa dulu sama sekali tak terpikir di kepalaku untuk mengambil jurusan hukum ya?

Lalu,

lalu ya, setelah menyelesaikan tesisku dan lulus, ada hal-hal yang ingin kupelajari lebih jauh. Tentang humanitarian aid, NGOs, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aah, kenapa ilmuku begitu dangkal? Kenapa aku tak membaca lebih banyak buku? Tak belajar lebih banyak lagi?

Aku belajar bahasa Korea lebih jauh lagi, Yura.

kali ini sendiri. Aku tidak mengambil kelas bahasa semester ini.

Saat ini ya, jarang sekali bisa menemukan orang yang akan duduk diam, hanya diam dan mendengarkan aku bicara tentang apa yang ingin kulakukan. Dan sejak kapan ya, perubahan-perubahan yang terjadi dalam pikiranku terasa seperti ombak yang pasang lalu surut. Tidak bisa diprediksi.

Aku yang berusia 17 tahun itu, tidak sama lagi dengan aku yang sekarang.

Aku benar-benar berubah ya.

Bahkan akupun tidak bisa menebak lagi ke mana pikiranku akan membawaku. Di saat-saat seperti ini, ketika pikiranku meledak-ledak karena menemukan hal baru untuk melakukan revolusi, aku ingin bicara denganmu. Keegoisan yang sudah kuterima sebagai kebiasaan. Masih maukah kau mendengarkan aku kapanpun aku mau bicara?

Impossible, ne.

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.